Harga perak kembali mencapai puncak tertinggi baru atau all time high (ATH), menyusul rilis data inflasi AS yang memperkuat spekulasi tentang penurunan suku bunga Federal Reserve serta ketidakpastian geopolitik yang terus mendorong permintaan aset safe-haven.
Dikutip dari CNBC, Rabu (14/1/2026) harga perak spot naik 2,1% ke level US$ 86,74 per troy ons, setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 89,10 sebelumnya pada sesi perdagangan.
Harga perak mencetak rekor usai Indeks Harga Konsumen inti AS mencatat kenaikan 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada Desember 2025.
The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan 27-28 Januari mendatang, meskipun investor saat ini mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga tahun ini.
Menguatnya perak juga seiring kekhawatiran yang meluas atas independensi The Fed setelah pemerintahan Presiden Donald Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap ketua bank sental, Jerome Powell.
Harga perak juga melonjak setelah Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25% pada negara-negara yang berdagang dengan Iran.
“Meskipun indikator teknis menunjukkan koreksi, para pedagang terus menyukai opsi bullish (untuk perak) Investor harus bersiap untuk pergerakan balik yang tajam dalam lingkungan volatilitas tinggi ini, meskipun bias bullish yang lebih luas tetap utuh,” kata Hugo Pascal, seorang pedagang logam mulia di InProved. Editor: Natasha Khairunisa
