Harga perak dunia kembali melemah pada awal perdagangan pekan ini, memperpanjang tekanan setelah aksi jual besar yang mengguncang pasar pada akhir pekan lalu.
Logam mulia ini masih berada dalam fase volatil seiring perubahan sentimen global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC, Selasa (3/1/2026), harga perak spot tercatat turun lebih dari 6% dan diperdagangkan di kisaran USD 78,86 per ons. Tekanan tersebut muncul setelah kontrak berjangka perak anjlok tajam hingga 28% pada Jumat lalu, yang menjadi penurunan harian terdalam sejak Maret 1980.
Meski demikian, kontrak berjangka perak sempat rebound sekitar 2% ke level USD 80,11 per ons.
Gejolak harga perak juga dipengaruhi kebijakan terbaru CME Group yang menaikkan persyaratan margin pasca aksi jual tajam. Margin kontrak berjangka perak COMEX berukuran 5.000 ons dinaikkan menjadi 15% dari sebelumnya 11%.
Langkah ini dinilai menambah tekanan jangka pendek, terutama bagi pelaku pasar yang mengandalkan leverage tinggi.
Perubahan arah pasar logam mulia terjadi ketika ekspektasi penurunan suku bunga AS berbenturan dengan dinamika baru di internal Federal Reserve. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pencalonan mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai pengganti Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang.
“Perdagangan ‘Buy America’ kembali menguat, sementara dorongan independensi yang sebelumnya membawa emas dan perak ke level rekor kini mulai memudar,” ujar Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, dalam catatan tertulisnya.
Penguatan Dolar
Penguatan indeks dolar AS sekitar 0,8% sejak Kamis turut memberi tekanan tambahan bagi perak. Dolar yang lebih kuat membuat harga perak menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sementara prospek suku bunga tinggi mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.
Meski terkoreksi tajam, harga perak sepanjang tahun ini masih mencatatkan kenaikan sekitar 16%. Tahun lalu, reli perak bahkan melonjak sekitar 145%, mencerminkan minat besar investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Christopher Forbes dari CMC Markets menilai, jika dolar kembali melemah atau arah kebijakan moneter The Fed menjadi lebih longgar, minat beli di harga rendah berpeluang kembali muncul di pasar perak.
