Harga perak dunia kembali menjadi sorotan pasar global setelah pergerakannya sangat fluktuatif dalam setahun terakhir. Logam mulia ini bahkan sempat menembus level lebih dari 100 dollar AS per troy ons pada 2026, sebelum mengalami penurunan tajam pada 30 Januari.
Meski sempat terkoreksi, kinerja harga perak sepanjang setahun terakhir masih tergolong sangat kuat. Nilainya tercatat melonjak lebih dari tiga kali lipat dan bahkan melampaui kenaikan harga emas.
Sebagai perbandingan, harga emas hanya naik sekitar 90 persen dalam periode yang sama. Lonjakan harga perak tersebut sekaligus mendorong rasio emas terhadap perak atau gold-to-silver ratio ke level terendah baru.
Rasio tersebut menunjukkan berapa banyak troy ons perak yang dibutuhkan untuk menyamai harga satu troy ons emas. Para analis menilai indikator ini dapat memberi gambaran apakah harga perak masih tergolong murah atau justru sudah mahal dibandingkan emas.
Dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (6/3/2026), Chris Mancini, associate portfolio manager Gabelli Gold Fund, mengatakan rasio emas-perak saat ini berada di kisaran 48. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata jangka panjang sekitar 65, serta mendekati titik terendah historis di sekitar 30.
“Jika rasio tersebut turun ke level 30, maka harga perak bisa mencapai sekitar 170 dollar AS per troy ons, dengan asumsi harga emas berada di 5.100 dollar AS per troy ons,” kata Mancini.
Dipicu Ketidakpastian Ekonomi Global
Lonjakan harga perak dalam setahun terakhir tidak terlepas dari sejumlah faktor makroekonomi global.
Para analis menilai kenaikan tersebut dipicu oleh pergeseran investor dari aset berbasis dollar AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian kondisi ekonomi dunia.
Pakar pasar logam mulia sekaligus managing partner CPM Group, Jeffrey Christian, mengatakan volatilitas harga perak sebenarnya lebih dipengaruhi kondisi ekonomi dan politik global dibandingkan faktor pasar perak itu sendiri.
“Ini bukan hanya tentang perak, melainkan kondisi ekonomi dan politik secara lebih luas,” kata Christian.
Menurut dia, kekhawatiran para ekonom saat ini meningkat seiring melemahnya kondisi pasar tenaga kerja, inflasi yang masih bertahan, serta dampak negatif dari tarif dan pembatasan perdagangan.
Situasi tersebut tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga memengaruhi perekonomian global.
Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, investor biasanya mencari aset alternatif seperti emas dan perak. Logam mulia kerap dianggap sebagai safe haven, yakni instrumen yang relatif lebih stabil ketika pasar saham dan obligasi bergejolak.
Permintaan Teknologi Dorong Harga Perak
Selain menjadi aset lindung nilai, perak juga memiliki peran penting dalam berbagai industri teknologi.
Logam ini digunakan dalam beragam produk, mulai dari panel surya, smartphone, televisi, semikonduktor, hingga pusat data kecerdasan buatan (AI).
Meningkatnya kebutuhan industri tersebut turut mendorong permintaan global terhadap perak. Namun di sisi lain, pasokan logam ini masih terbatas sehingga memicu kekurangan suplai di pasar.
Peter Reagan, financial market strategist dari Birch Gold Group, mengatakan kondisi tersebut membuat prospek harga perak masih positif pada tahun ini.
Menurut dia, kenaikan harga perak didorong oleh keterbatasan pasokan fisik, kuatnya permintaan industri, serta meningkatnya minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Cara Berinvestasi Perak
Investor memiliki beberapa pilihan untuk berinvestasi pada perak, baik dalam bentuk fisik maupun melalui instrumen keuangan.
Perak fisik biasanya dijual dalam bentuk koin atau batangan. Sementara itu, investor juga dapat memperoleh eksposur terhadap perak melalui instrumen seperti dana investasi yang melacak harga logam tersebut.
Perlu diketahui, terdapat perbedaan antara perak fisik dan paper silver. Perak fisik merupakan logam yang benar-benar dimiliki investor, sedangkan paper silver memberikan eksposur terhadap harga perak melalui instrumen keuangan seperti saham dana investasi.
Dalam kondisi pasar yang volatil, kedua jenis aset tersebut bisa menunjukkan pergerakan yang berbeda tergantung pada sentimen investor.
Michael Unger, vice president of investments and planning di Coral Gables Trust, mengatakan investor dapat memperoleh eksposur terhadap perak melalui batangan fisik, ETF, maupun saham perusahaan tambang.
“Bagi sebagian besar investor, ETF menjadi cara paling praktis untuk mendapatkan eksposur ke perak,” ujar Unger.
Ia menambahkan, perak dapat menjadi instrumen diversifikasi portofolio sekaligus lindung nilai terhadap inflasi. Namun investor tetap perlu memperhatikan risiko yang ada.
“Perak memang dapat menjadi lindung nilai terhadap inflasi sekaligus alat diversifikasi portofolio. Namun, harganya telah naik tiga kali lipat dalam setahun, sehingga potensi volatilitas dalam jangka pendek tetap tinggi,” kata Unger.
Menurut dia, dibanding mencoba menebak waktu terbaik masuk pasar, investor lebih baik melakukan alokasi investasi secara bertahap dalam portofolio yang terdiversifikasi.
