Harga timah dunia anjlok mengawali pekan ini, setelah sempat mencapai level tertingginya pada April saat penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Timah di London Metal Exchange (LME) terperosok 3,1% menjadi US$34.478/ton pada penutupan perdagangan Senin (22/4/2024) waktu setempat. Adapun, timah pada penutupan perdagangan Jumat sempat menyentuh rekor tertinggi bulan ini, yakni US$35.582/ton.
Adapun, timah merupakan komoditas logam non-ferrous yang mengalami per-ubahan harga paling drastis di antara komoditas lainnya di LME.
Data LME pagi ini menunjukkan harga komoditas logam non-ferrous lainnya turut mengalami perubahan. Aluminium ditutup menguat 0,06% ke level US$ 2.670/ton pada Senin, tembaga turun 0,47% menjadi US$9.829/ton, dan nikel melesat 2,14% menjadi US$19.739/ton.
Wakil Komisi Tetap Hilirisasi Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Djoko Widajatno, mengatakan keterbatasan pasokan timah di dunia menjadi penyebab harga terkerek di atas US$30.000/ton. Salah satu pemicu keterbatasan pasok timah adalah ekspor dari Indonesia yang terhambat.
Djoko, yang juga merupakan Koordinator Indonesia Mining Association (IMA) untuk ASEAN Federation of Mining Association, menjelaskan kontribusi ekspor timah dari Indonesia sangat besar di pasar dunia.
Pada 2023, 95% produksi timah Indonesia yang mencapai 80.000 ton dialokasikan untuk ekspor, sementara 5% untuk permintaan dalam negeri.
Djoko juga mengutip pernyataan Senior Market Intelligence Analyst International Tin Association Tom Langston yang menjelaskan ekspor timah dari Indonesia saat ini sangat tertunda karena belum adanya aktivitas perdagangan di Indonesia Commodity Derivatives Exchange (ICDX) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) sejak pergantian tahun.
“Permintaan akan logam tersebut cen-derung naik, tetapi pasokan logam tersebut masih cenderung terbatas, sehingga men-dorong kenaikan harga timah dunia,” ujar Djoko. (wdh)
Sumber : bloombergtechnoz.com, 23 April 2024
