HPM Nikel Naik, tetapi Kelebihan Pasokan Masih Membayangi RI

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menilai perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel dapat membuat harga acuan komoditas tersebut naik hingga 100% sampai 140%, tetapi kondisi pasar nikel global yang masih mengalami kelebihan pasokan dari Indonesia menjadi kendala.

Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menyatakan kelebihan pasokan tersebut terutamanya terjadi di pasar China, tecermin dari turunnya harga di level hulu hingga tingkat menengah seperti bijih nikel, nickel pig iron (NPI), dan nikel sulfat.

Penurunan harga tersebut terjadi ketika permintaan belum sepenuhnya pulih, khususnya dari sektor baterai.

Untuk itu, Meidy memandang langkah Indonesia merevisi formula HPM dan memangkas produksi bijih dinilai bakal menjaga harga komoditas tersebut dan diharapkan mengatur kerseimbangan pasokan di pasar global.

“Saat ini industri nikel global masih dalam tekanan oversupply, tetapi Indonesia sedang melakukan repositioning strategis melalui reformasi HPM dan pengendalian produksi. Ini bukan hanya menjaga harga, tetapi juga memastikan nilai tambah dan keberlanjutan industri ke depan,” kata Meidy dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).

Harga Bullish

Meidy mencatat harga logam nikel di London Metal Exchange (LME) melonjak beberapa jam usai aturan HPM dirilis, dari sekitar US$17.090/ton menjadi US$17.680/ton.

Dia menyatakan kondisi tersebut bakal memperkuat dasar harga bijih atau price floor bagi penambang, tetapi bakal menambah biaya produksi untuk smelter nikel; terutama smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

“Jadi yang terjadi saat ini adalah bukan kenaikan margin, tetapi justru margin compression di tengah rantai industri,” tuturnya.

Meidy juga mengungkapkan saat ini industri nikel tengah menghadapi tiga tantangan, yakni; biaya produksi, permintaan yang masih melandai, dan risiko rantai pasok industri.

Dia menyatakan tekanan biaya produksi terjadi gegara harga sulfur yang digunakan oleh smelter HPAL melonjak, bahkan biaya produksi smelter hidrometalurgi tersebut diprediksi naik US$4.000/ton nikel gegara harga sulfur.

Di sisi lain, tidak seimbangnya produksi dengan permintaan juga masih terjadi. Meidy menjelaskan permintaan nikel untuk industri baja nirkarat atau stainless steel masih kuat, tetapi permintaan dari industri baterai masih belum optimal.

Selanjutnya, dia menyatakan industri nikel domestik juga dihadapi risiko gangguan rantai pasok. Alasannya, Indonesia masih sangat bergantung terhadap impor sulfur yang saat ini pasokannya terganggu gegara Selat Hormuz ditutup.

Gegara hal tersebut, Meidy memprediksi dalam jangka pendek perusahaan nikel bakal melakukan penyesuaian strategi seperti mengefisiensikan operasional, menyesuaikan belanja modal atau capital expenditure (capex), serta mengoptimalisasi produksi.

“Namun sejauh ini, industri masih fokus pada menjaga keberlanjutan operasi, bukan pengurangan tenaga kerja secara masif. Karena kita melihat ini sebagai fase transisi, bukan krisis permanen,” tegas dia.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengubah HPM untuk penjualan komoditas mineral logam, termasuk bijih nikel dan bijih bauksit.

Aturan tersebut tertuang di dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 144/2026 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara. Aturan itu berlaku efektif mulai 15 April 2026.

Dalam aturan terbaru tersebut, formula HPM bijih nikel tidak lagi hanya mengacu pada kadar nikel, melainkan turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi (Fe), kobalt (Co), dan krom (Cr), serta faktor kadar air atau moisture content.

Dijelaskan bahwa kontribusi unsur tambahan hanya dihitung jika memenuhi ambang batas tertentu, seperti kadar besi minimal 35% dan kobalt minimal 0,05%.

Sementara itu, faktor koreksi atau CF juga ditetapkan berbeda untuk masing-masing komoditas, yakni 30% untuk nikel, besi, dan kobalt, serta 10% untuk krom. Selain itu, penggunaan satuan juga berubah dari sebelumnya US$/dry metric ton (dmt) menjadi US$/wet metric ton (wmt).

Sebelumnya, dalam Kepmen ESDM No. 268 Tahun 2025, perhitungan HPM bijih nikel hanya didasarkan pada kadar nikel (%Ni), corrective factor (CF), dan harga mineral acuan (HMA) nikel.

Sekadar catatan, nikel dilego di harga US$18.133/ton pada Kamis (16/4/2026) di London Metal Exchange (LME). Harga nikel turun tipis 0,4% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan. (azr/wdh)

Sumber:

– 16/04/2026

Temukan Informasi Terkini

Usai Lapor Presiden, Menteri ESDM Bahlil Pastikan Perketat Penerbitan Izin Tambang

baca selengkapnya

Vale (INCO) Dijagokan Analis, Ketahanan Inventaris Kunci Hadapi Krisis

baca selengkapnya

Petrosea (PTRO) Lepas Tambang Batu Bara ke Singaraja Putra (SINI)

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top