PT VALE Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan ketangguhan, meskipun menghadapi tekanan jangka pendek dari penurunan harga nikel dan tantangan biaya.
“Margin diperkirakan menyempit pada 2024 akibat tekanan biaya yang berkelanjutan, namun efisiensi biaya yang meningkat dan penurunan harga input energi diharapkan mendukung pemulihan margin dan pertumbuhan laba pada 2025,” tulis analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan dan Wilbert Arifin dalam risetnya.
Vale Indonesia (INCO) juga tetap berada pada posisi strategis untuk mendapatkan manfaat dari inisiatif hilirisasi nikel di Indonesia, terutama dengan proyek smelter berteknologi high pressure acid leaching (HPAL) di Morowali dan Pomalaa. Smelter HPAL bakal mendorong pertumbuhan permintaan jangka menengah hingga panjang.
“Proyek-proyek Vale Indonesia menawarkan potensi peningkatan yang signifikan, seiring kemajuan konstruksi dan peningkatan sektor hilir,” jelas Rizkia.
Emiten berkode saham INCO itu memiliki beberapa proyek raksasa, yang mendukung pengolahan nikel hilir dan integrasi energi bersih. Total investasi sebesar US$ 9 miliar atau kini setara Rp 145 triliun.
Untuk membiayai proyek pertumbuhan tersebut, INCO memiliki strategi pendanaan dengan mengombinasikan utang dan ekuitas. Dengan kepemilikan proyek sebesar 30%, INCO diperkirakan bakal menginvestasikan dana sekitar US$ 2,7 miliar atau kini setara Rp 43 triliun.
Adapun sisanya sebesar 70% atau setara Rp 102 triliun akan ditanggung oleh mitra usaha patungan (joint venture/JV).
“Berdasarkan update dari INCO, akumulasi utang perseroan diproyeksikan mencapai US$ 1,2 miliar pada 2027,” ungkap Rizkia.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Sementara itu, produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) pada 2027 diproyeksikan berkontribusi sebesar 40% terhadap pendapatan INCO, sedangkan nikel matte ditaksir menyumbang 58%. Selanjutnya, pada 2029, pendapatan diperkirakan seimbang antara nikel matte 49% dan MHP 48%.
“Arus kas dari operasional diestimasi meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan. Akumulasi utang diperkirakan mencapai puncaknya US$ 1,2 miliar pada 2027, setelah itu stabil,” ungkap dia.
Dengan berbagai faktor tersebut, Mirae mempertahankan pandangan netral terhadap INCO. Meski demikian, broker asing itu menaikkan target harga saham INCO menjadi Rp 4.290 dengan rekomendasi trading buy.
Target harga saham INCO mengimplikasikan EV/EBITDA sebesar 6,5 kali atau setara standar deviasi (SD) -0,5 di bawah rata-rata 5 tahun. Hal ini mencerminkan stabilitas operasional INCO, portofolio proyek strategis, dan kemampuan perseroan mengatasi tantangan saat ini sambil bersiap untuk pemulihan serta pertumbuhan di masa depan. Editor: Jauhari Mahardhika
Sumber: investor.id, 17 Desember 2024
