Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperkirakan kebutuhan bijih nikel akan meningkat pada 2027.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengatakan, kenaikan tersebut terutama didorong oleh bertambahnya kapasitas produksi fasilitas hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).
Sejumlah proyek HPAL yang saat ini berada dalam tahap akhir konstruksi diproyeksikan segera memasuki tahap komisioning hingga operasi penuh. Kondisi itu akan meningkatkan kebutuhan bahan baku, terutama bijih nikel jenis limonit.
Pada 2025, produksi produk HPAL yang mencakup mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt sulfat mencapai sekitar 450.000 ton nikel.
Menurut Arif, kapasitas produksi MHP di Indonesia diperkirakan meningkat signifikan pada akhir 2027 hingga melampaui 900.000 ton nikel.
“Dengan demikian akan ada penambahan kebutuhan pasokan bahan baku bijih limonit untuk menopang level produksi sebesar itu,” tuturnya.
Peningkatan kapasitas HPAL tersebut berpotensi membuat kebutuhan pasokan bijih nikel domestik kembali meningkat. Ini khususnya setelah industri mencatat penurunan produksi olahan pada 2026.
Menurut Arif, kondisi itu sekaligus menempatkan ketersediaan bahan baku sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga tingkat utilisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di dalam negeri.
Adapun pemerintah menetapkan produksi bijih nikel pada kisaran 260 juta ton hingga 270 juta ton untuk 2026 ini. Angela ini lebih rendah dibanding produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang sebesar 379 juta ton.
FINI sendiri memperkirakan kebutuhan bijih nikel pada 2026 berada di kisaran 320 juta ton. Angka ini senada dengan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurut Arif, kebutuhan bijih nikel pada tahun ini mengalami perubahan seiring dengan tren penurunan produksi nikel olahan di dalam negeri.
“Angka kebutuhan bijih nikel pada tahun ini yang disampaikan oleh Kementerian ESDM [320 juta ton] mirip dengan estimasi dari FINI,” kata Arif.
Produksi Olahan 2026 Turun
Berdasarkan catatan FINI hingga Agustus 2026, produksi nikel dari jalur pirometalurgi telah mencapai sekitar 1,3 juta ton. Sementara itu, produksi nikel dari jalur hidrometalurgi tercatat sekitar 270.000 ton.
FINI memperkirakan, total produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 akan turun sekitar 3,5% hingga 4% dibandingkan dengan produksi pada 2025 yang mencapai sekitar 2,5 juta ton nikel.
Arif menjelaskan, penurunan produksi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah penurunan produksi nickel pig iron (NPI) akibat turunnya utilisasi serta pengalihan sejumlah tanur untuk memproduksi nikel matte.
Selain itu, terdapat penutupan tanur pada semester II/2026 untuk mengalihkan pasokan listrik bagi produksi aluminium.
Pada fasilitas pengolahan berbasis high pressure acid leach (HPAL), produksi juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga sulfur yang signifikan dan tingginya harga bijih limonit sebelum adanya revisi formula harga patokan mineral (HPM) yang baru.
“Beberapa smelter/refinery mengalami penghentian produksi dan/atau pengurangan produksi akibat beberapa kondisi internal perusahaan; keuangan internal perusahaan,” ujar Arif.
Di sisi lain, ketersediaan dan harga bahan baku penunjang juga menjadi tantangan bagi industri. Kondisi tersebut terutama terjadi pada sulfur dan asam sulfat yang merupakan bahan penting dalam proses pengolahan nikel.
Selain itu, dia menyebut bahwa faktor cuaca turut memengaruhi operasional industri. Arif mengatakan, kekeringan dan berkurangnya pasokan air akibat fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang menekan produksi nikel olahan. Editor : Leo Dwi Jatmiko
