Harga batu bara terus melandai meski banyak ditopang kabar positif.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (10/9/2026) ditutup di posisi US$ 150,4 per troy ons. Harganya melemah 0,46%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya di mana harga sudah jatuh empat hari beruntun dengan total turun 1,7%.
Harga batu bara tetap ambruk meskipun ditopang lonjakan harga minyak dan proyeksi adanya kenaikan permintaan.
Harga minyak terus melonjak dalam dua hari bahkan menembus US$ 107 per barel. Namun, batu bara sebagai substitusi harganya justru turun.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam laporan terbarunya, Coal Mid-Year Update 2026, memperkirakan gangguan pasar energi akibat konflik di Timur Tengah akan mendorong permintaan batu bara global lebih tinggi tahun ini.
Proyeksi ini menjadi kabar baik bagi Indonesia sebagai eksportir terbesar batu bara termal di dunia dan perusahaan Indonesia yang banyak mengekspor batu bara.
Meski hampir tidak ada pengiriman batu bara yang melewati Selat Hormuz karena kawasan Timur Tengah bukan produsen maupun konsumen utama batu bara, konflik tetap berdampak besar terhadap pasar batu bara.
Pasalnya, perang menyebabkan anjloknya pengiriman gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz, sehingga harga gas alam melonjak tajam. Kondisi tersebut mendorong negara-negara yang memiliki pembangkit listrik berbahan bakar gas sekaligus kapasitas batu bara yang masih tersedia untuk kembali mengandalkan batu bara sebagai sumber energi.
IEA memperkirakan kondisi tersebut membuat konsumsi batu bara di Eropa, Jepang, Korea Selatan, China, dan sejumlah pasar lainnya lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
El Nino Ikut Dongkrak Permintaan
China juga meningkatkan konsumsi batu bara untuk produksi bahan kimia seiring tingginya harga minyak.
Di Asia, pola cuaca El Nino yang diperkirakan sangat kuat tahun ini juga berpotensi meningkatkan permintaan batu bara di sejumlah negara konsumen utama, termasuk India dan Vietnam.
Kebutuhan pendingin yang lebih tinggi serta berkurangnya produksi listrik tenaga air diperkirakan membuat pembangkit batu bara kembali menjadi andalan.
Alhasil, permintaan batu bara global diperkirakan tumbuh 1,2% pada 2026, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan konsumsi akan sedikit turun secara tahunan.
Dengan pertumbuhan tersebut, konsumsi batu bara dunia diperkirakan mencapai rekor 8,94 miliar ton pada 2026.
Nasib Batu Bara 2027 Bergantung Selat Hormuz
Prospek 2027 masih dibayangi ketidakpastian. Salah satu faktor paling menentukan adalah apakah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz akan kembali normal.
Jika pengiriman LNG melalui selat tersebut pulih dan harga gas alam kembali mendekati level sebelum perang, permintaan batu bara global berpotensi turun pada 2027.
Sebaliknya, jika Selat Hormuz masih tertutup bagi sebagian besar pengiriman LNG, permintaan batu bara berpeluang kembali meningkat.
Di sisi produksi, IEA memperkirakan produksi batu bara global akan turun pada 2026 setelah mencapai rekor tertinggi pada 2025.
Meski demikian, produksi dunia diperkirakan tetap di atas 9 miliar ton untuk tahun ketiga berturut-turut.
Penurunan terutama terjadi di China, negara produsen batu bara terbesar dunia. Produksi China tertekan setelah kecelakaan tambang besar pada Mei memicu inspeksi keselamatan di berbagai tambang.
Kondisi tersebut menyebabkan produksi batu bara China turun signifikan sejak saat itu.
Dengan semakin menyempitnya kesenjangan antara produksi dan konsumsi, penumpukan stok batu bara global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir diperkirakan mulai berkurang.
Pada 2027, produksi batu bara global diproyeksikan kembali naik tipis seiring pemulihan produksi China.
Harga Batu Bara Dunia Ikut Terangkat
IEA juga melihat permintaan batu bara di pasar internasional berpotensi lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Penurunan produksi domestik China terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan dari negara-negara yang bergantung pada impor, seperti Jepang dan Korea Selatan.
Kedua negara tersebut meningkatkan penggunaan batu bara setelah harga gas alam melonjak.
Kombinasi pasokan yang ketat, produksi domestik China yang menurun, serta permintaan impor yang meningkat akhirnya menjadi bahan bakar tambahan bagi kenaikan harga batu bara di pasar global.
Permintaan batu bara India diproyeksikan kembali menguat pada 2026. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan konsumsi batu bara India akan melonjak 4,2% menjadi 1,353 miliar ton.
Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan listrik serta aktivitas industri yang semakin agresif. Sejumlah sektor seperti pig iron, direct reduction of iron (DRI), dan industri semen diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan konsumsi batu bara India.
Faktor cuaca juga berpotensi memperbesar permintaan. Fenomena El Nino diperkirakan meningkatkan kebutuhan pendinginan di sejumlah wilayah Asia sekaligus menekan produksi listrik tenaga air.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat India dan negara-negara Asia lainnya semakin mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Berbeda dengan tren global, produksi batu bara India diperkirakan mencapai 1,095 miliar ton. Pemerintah India terus mendorong produksi domestik untuk meningkatkan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Namun, tingginya persediaan batu bara di area tambang (pithead inventories) membuat laju produksi sempat tertahan. Pada saat yang sama, impor batu bara termal menurun, terutama di sektor pembangkit listrik.
Produksi Batu Bara RI Turun
Kementerian ESDM memangkas rata-rata produksi batu bara Indonesia pada 2026 menjadi sekitar 60 juta ton per bulan, turun 8 juta ton dibandingkan rata-rata 2025 yang mencapai 68 juta ton.
Direktur Jenderal Minerba Tri Winarno menyebut produksi Januari-Juli 2026 mencapai 423,71 juta ton, terdiri dari 270 juta ton ekspor dan 113 juta ton untuk domestik. Hingga akhir tahun, produksi diproyeksikan mencapai 720-722 juta ton.
Pemerintah sebelumnya memangkas RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) batu bara 2026 ke kisaran 600 juta ton lebih untuk menjaga harga batu bara global. Namun, relaksasi produksi masih dipertimbangkan khusus untuk memenuhi kebutuhan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan mencegah gangguan pasokan listrik.
PLN sendiri akan mendapat tambahan pasokan 16,8 juta ton batu bara hingga akhir 2026, termasuk 3 juta ton per bulan pada Agustus-Desember. Tambahan ini ditujukan untuk batu bara berkalori di atas 4.500 kcal/kg guna meningkatkan keandalan pembangkit listrik.
Reli Harga di China Melandai
Pasar batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan utama China bagian utara kini mulai kehilangan tenaga setelah reli harga sebelumnya.
Permintaan yang melemah mendorong pedagang melakukan aksi ambil untung (profit-taking), sementara harga batu bara di tingkat tambang juga mulai turun.
Sxcoal mencatat sentimen pasar batu bara termal domestik China di sejumlah pelabuhan transfer utama di utara melemah signifikan pada pertengahan pekan. Pelemahan tersebut dipicu kombinasi penurunan harga batu bara di mulut tambang dan turunnya konsumsi pembangkit listrik.
Sebelumnya, harga batu bara di pelabuhan China sempat menguat cukup tajam. Namun, reli mulai kehilangan momentum setelah harga di wilayah produksi mengalami koreksi. Pada 8 September, Sxcoal juga melaporkan reli batu bara termal di pelabuhan China mulai kehilangan tenaga setelah harga di tingkat tambang mundur.
Salah satu tekanan terbesar datang dari sisi permintaan.
Konsumsi batu bara pembangkit listrik mulai melemah setelah periode permintaan listrik tinggi. Kondisi tersebut membuat pembeli lebih berhati-hati dan tidak agresif mengejar harga tinggi.
Situasi ini menciptakan tekanan terhadap pedagang yang sebelumnya membeli batu bara pada harga tinggi. Ketika permintaan tidak lagi cukup kuat untuk menopang harga, sebagian pedagang memilih merealisasikan keuntungan, sehingga tekanan jual meningkat. (mae/mae)
