Ini Strategi Hijau Harita Nickel Tekan Emisi dan Jaga Daya Saing Energi

Transisi energi dan target net zero emission kini menjadi agenda strategis nasional sekaligus arus utama global. Industri pertambangan dan hilirisasi mineral, termasuk nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik, berada dalam posisi yang tidak sederhana.

Di satu sisi, nikel menjadi enabler transisi energi. Namun di sisi lain, proses produksinya dituntut makin efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan. Tekanan pasar global serta standar keberlanjutan internasional membuat transformasi industri ini tak bisa ditunda.

Sebagai pemain nikel terintegrasi, Harita Nickel menempatkan dekarbonisasi sebagai bagian dari transformasi operasional jangka panjang. Pendekatan yang dilakukan berbasis continuous improvement, mencakup efisiensi energi, inovasi teknologi, serta pemanfaatan energi rendah karbon.

Peta Jalan Dekarbonisasi Menuju Net Zero 2060

Berdasarkan data perusahaan, Harita Nickel menjalankan sejumlah inisiatif terukur untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Kontributor terbesar berasal dari teknologi waste heat recovery di PT Halmahera Persada Lygend (HPL), yang memanfaatkan kembali uap panas sisa proses pengolahan nikel menjadi energi. Teknologi ini menyumbang sekitar 73% dari total emisi yang berhasil dihindari perusahaan pada 2023. Panas yang sebelumnya terbuang kini dikonversi kembali untuk mendukung operasional.

Di sisi energi terbarukan, perusahaan juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dimanfaatkan untuk penerangan jalan, menara telekomunikasi, hingga atap perumahan karyawan. Tambahan instalasi PLTS atap ditargetkan beroperasi sebelum akhir 2025 sebagai bagian dari penguatan bauran energi rendah karbon.

Terkait investasi tersebut, Direktur Health, Safety & Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom menyampaikan bahwa pembangunan PLTS memang membutuhkan biaya yang tidak kecil. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan untuk menekan emisi dan memastikan operasional berjalan lebih ramah lingkungan.

“Pembangunan PLTS memerlukan investasi sekitar US$ 1-1,5 juta per 1 MWp. Investasi ini tentu tidak murah, namun sangat penting operasional yang rendah emisi. Seluruh inisiatif ini merupakan bagian dari peta jalan dekarbonisasi Harita Nickel. Perusahaan ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain itu, perusahaan juga mengoptimalkan gasifikasi batubara dengan mengubah batubara menjadi syngas yang lebih efisien dan rendah emisi. Proses ini terintegrasi dalam Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) untuk meningkatkan efisiensi produksi feronikel.

Penggunaan biosolar dengan kandungan 35% bahan berbasis hayati untuk pembangkit listrik dan transportasi operasional juga menjadi bagian dari strategi transisi energi perusahaan. Angka ini meningkat dari sebelumnya 30%, sebagai bentuk peningkatan bauran energi yang lebih rendah karbon.

Inovasi lain dilakukan dari sisi internal operasional. Minyak jelantah dari dapur karyawan didaur ulang dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif di smelter untuk mengurangi konsumsi batubara. Selain itu, kendaraan listrik seperti forklift dan kendaraan penarik juga mulai dioperasikan di gudang nikel sulfat HPL guna menekan emisi langsung dari aktivitas operasional.

Berbagai langkah tersebut tidak hanya berhenti pada tataran inisiatif, tetapi juga tercermin dalam capaian angka yang terukur.

Capaian Energi dan Pengurangan Emisi

Secara total, energi yang dihasilkan dari inisiatif efisiensi dan energi terbarukan mencapai 20.992.004 GJ. Sekitar 33% berasal dari energi terbarukan dan 67% dari efisiensi energi.

Sementara itu, total emisi yang berhasil dihindari dan dikurangi mencapai 1.610.582 ton CO2e. Kontribusi terbesar berasal dari lini RKEF dan HPAL yang menjadi tulang punggung operasional perusahaan.

Capaian ini menjadi fondasi penting dalam mendukung target net zero emission 2060, sekaligus memperkuat posisi perusahaan di tengah tuntutan rantai pasok global yang semakin ketat terhadap aspek lingkungan.

Menjaga Daya Saing di Tengah Transisi Energi

Tonny menegaskan bahwa komitmen dekarbonisasi dan transisi energi yang dijalankan perusahaan merupakan bagian dari tanggung jawab industri pertambangan untuk memberikan manfaat jangka panjang.

“Pertambangan yang bertanggung jawab harus membawa manfaat jangka panjang, tidak hanya secara ekonomi, tapi juga sosial dan ekologis,” tegasnya.

Transformasi ini menunjukkan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, melainkan strategi bisnis jangka panjang. Dengan pendekatan bertahap dan berbasis teknologi, Harita Nickel berupaya memastikan pertumbuhan produksi tetap berjalan seiring dengan penurunan intensitas emisi, sejalan dengan agenda transisi energi nasional dan kebutuhan pasar global. (ega/ega)

Sumber:

– 05/03/2026

Temukan Informasi Terkini

Menanti Persetujuan RKAB, Ini Prospek Kinerja Antam (ANTM) pada 2026

baca selengkapnya

MDKA dan Antam (ANTM) Teken Kontrak Jual Beli Emas 3 Ton/Tahun

baca selengkapnya

PERHAPI Susun Standar ESG Nikel Berbasis Internasional

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top