Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan respons investor global terhadap strategi ekonomi Indonesia yang dinilai tidak lazim, pertumbuhan bisa dipacu lebih cepat tanpa mengorbankan kehati-hatian fiskal.
Hal tersebut disampaikan Purbaya usai bertemu 18 investor besar di Amerika Serikat, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments, dalam rangkaian agenda internasional pemerintah.
Menurut dia, investor awalnya mempertanyakan bagaimana Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi yang agresif dengan stabilitas anggaran negara.
“Mereka ingin tahu strategi kita masuk akal atau tidak. Karena mereka melihat kita bisa tumbuh lebih cepat, tapi angkanya tetap terkendali,” ujar Purbaya dalam keterangannya pada Rabu (15/4/2026).
Purbaya menjelaskan, pemerintah memaparkan secara komprehensif desain kebijakan fiskal dan dampaknya terhadap perekonomian.
Penjelasan tersebut mencakup bagaimana pertumbuhan didorong tanpa memperlebar risiko terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Purbaya, setelah mendapatkan penjelasan perinci, investor mulai memahami arah kebijakan yang diambil pemerintah.
“Kita jelaskan dengan gamblang. Jadi mereka bisa menerima bahwa kita menciptakan pertumbuhan ekonomi lebih cepat tanpa mengorbankan kehati-hatian kebijakan fiskal,” kata dia.
Ia menambahkan, selama ini terdapat kebingungan di kalangan investor global terhadap pendekatan Indonesia yang dinilai berbeda dibandingkan banyak negara lain.
Investor, umumnya melihat percepatan pertumbuhan ekonomi berisiko menekan stabilitas fiskal.
Namun, Indonesia justru mencoba menjaga keduanya berjalan seimbang.
Selain menjelaskan strategi fiskal, pemerintah juga menekankan bahwa kebijakan telah dirancang untuk mampu menyerap tekanan global, termasuk fluktuasi harga energi dan ketidakpastian geopolitik.
Fiskal kuat Dalam pertemuan terpisah dengan Managing Director Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, Purbaya menyebut ketidakpastian global masih akan berlangsung dalam jangka menengah.
Meski demikian, Indonesia dinilai tidak memerlukan dukungan khusus dari IMF karena kondisi fiskal yang relatif kuat.
“Tadi disampaikan bahwa IMF memang tidak punya otoritas mengurangi ketidakpastian global. Tapi mereka punya fasilitas bantuan untuk negara yang membutuhkan. Indonesia tidak termasuk karena kondisi kita cukup baik,” ujarnya.
Purbaya juga menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan penyesuaian kebijakan sejak tahun lalu, sehingga mampu meredam berbagai guncangan eksternal.
“Makanya kita bisa menyerap shock dari ketidakpastian global, termasuk dari harga minyak yang tinggi,” ucapnya.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan Bank Dunia dan S&P Global Ratings, ia mengeklaim keraguan terhadap strategi fiskal Indonesia mulai berkurang.
Menurut dia, lembaga internasional tersebut menilai pendekatan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi sudah berada di jalur yang tepat.
“Saya merasa mereka puas dengan penjelasan kita. Keraguan apakah kita bisa menjalankan fiskal yang baik sambil menciptakan pertumbuhan, sekarang sudah mulai hilang,” kata Purbaya.
Lebih lanjut, ia menyebut minat investor terhadap Indonesia tetap tinggi, terutama di sektor keuangan seperti obligasi dan saham.
Pemerintah pun optimistis aliran dana akan mulai masuk dalam waktu dekat seiring meningkatnya kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
