Prospek kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pada 2026 diperkirakan masih menghadapi tekanan seiring sejumlah hambatan struktural yang membayangi.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi, menilai kinerja ITMG tahun depan berpotensi tertekan, terutama akibat faktor regulasi dan dinamika pasar batubara.
“Produksi bisa turun akibat pemangkasan RKAB, sementara kenaikan tarif pajak akan menekan laba, dan potensi kenaikan DMO juga bisa menekan blended ASP,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).
Seperti diketahui, ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara masih menjadi risiko jangka pendek yang dominan.
Di sisi lain, penerapan PP Nomor 18 Tahun 2025 turut meningkatkan tarif pajak efektif menjadi sekitar 32,2% dari sebelumnya 24,1%, yang berpotensi menggerus pendapatan.
Selain itu, wacana peningkatan porsi Domestic Market Obligation (DMO) hingga 30% dengan harga jual ke PLN yang dibatasi di level US$70 per ton juga diperkirakan menekan harga jual rata-rata (blended average selling price/ASP) ITMG.
Meski demikian, Wafi menilai ITMG masih memiliki penopang dari sisi internal. Emiten ini diharapkan tetap mengandalkan disiplin biaya untuk menjaga margin di tengah tekanan volume produksi dan harga jual.
Dari sisi kinerja, ITMG mencatatkan produksi dan penjualan yang positif sepanjang tahun 2025. Perusahaan berhasil meningkatkan produksi batubara sebesar 5% menjadi 21,2 juta ton dan penjualan naik 3 penjualan menjadi 24,7 juta ton.
Namun, pendapatan bersih ITMG terkoreksi 18,26% year on year (yoy) menjadi US$ 1,88 miliar pada 2025, dari sebelumnya US$ 2,30 miliar. Laba bersih tercatat sebesar US$ 195 juta dengan marjin laba kotor 26%.
Manajemen ITMG menyebut, penurunan pendapatan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 20%.
Sejalan dengan itu, penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 48,96% yoy menjadi US$ 190,94 juta pada 2025, dari sebelumnya yaitu US$ 374,12 juta.
Dari sisi sentimen, terdapat sejumlah katalis yang patut dicermati investor.
Pertama, potensi persetujuan RKAB penuh yang dapat mendongkrak kembali volume produksi.
Kedua, harga batubara yang diperkirakan stabil dan berpeluang pulih secara bertahap, ditopang oleh pengetatan pasokan serta permintaan struktural dari negara-negara seperti India dan kawasan Asia Tenggara.
Ketiga, langkah diversifikasi ke komoditas nikel dinilai dapat menjadi narasi pertumbuhan jangka panjang, seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk industri elektrifikasi global.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Wafi merekomendasikan saham ITMG untuk hold dan target harga di level Rp 26.200 per saham.
