Proyeksi penguatan harga batu bara pada semester II/2026 belum mendorong produsen untuk mengerek produksi secara agresif.
PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA), menjadi salah satu emiten yang memilih mempertahankan target produksi yang telah ditetapkan sejak awal tahun.
Corporate Secretary Division Head PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Eko Prayitno mengatakan perseroan akan memperkuat kegiatan operasional, menjaga keandalan peralatan, serta meningkatkan produktivitas untuk memastikan target produksi paruh kedua tahun ini tercapai.
Sepanjang semester I/2026, PTBA mencatat produksi batu bara sebesar 19,45 juta ton. Dengan dukungan persediaan yang optimal, perseroan mampu merealisasikan penjualan sebanyak 21,10 juta ton.
Eko mengatakan pada semester II/2026, target produksi PTBA masih berada pada jalur yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni sebesar 49,5 juta ton.
“Terkait target produksi semester II/ 2026, yaitu sebesar 49,5 juta ton. Namun, fokus kami tidak hanya mengejar volume, tetapi lebih ke bagaimana meningkatkan kualitas kinerja secara menyeluruh, baik dari sisi produksi, penjualan, harga jual rata-rata, efisiensi biaya, maupun profitabilitas,” ujarnya kepada Bisnis dikutip, Kamis (27/8/2026).
Perseroan menegaskan pencapaian kinerja akan dilihat secara lebih luas, mulai dari produksi, penjualan, harga jual rata-rata, efisiensi biaya, hingga profitabilitas.
Dengan pendekatan tersebut, perubahan terhadap target produksi maupun proyeksi pendapatan dan laba akan tetap mempertimbangkan perkembangan pasar dan kondisi operasional.
“Prinsip kami adalah tetap realistis, prudent, tetapi juga responsif terhadap peluang yang ada,” katanya.
PTBA melihat harga batu bara masih memperoleh dukungan positif dalam jangka pendek. Faktor tersebut antara lain kondisi geopolitik global, perkembangan harga LNG sebagai komoditas substitusi yang masih tinggi, fenomena El Nino, serta keseimbangan pasokan dan permintaan batu bara global.
Akan tetapi, perusahaan memperkirakan volatilitas tetap menjadi risiko utama. Tekanan dapat muncul dari normalisasi permintaan batu bara China dan India, pertumbuhan penggunaan energi baru terbarukan, serta pertumbuhan pasokan di pasar global.
“Namun, kami melihat support positif harga batubara tersebut masih memiliki ancaman volatilitas yang perlu diperhatikan,” imbuh Eko.
Karena itu, PTBA menyiapkan tiga fokus utama pada semester II/2026, yakni mengoptimalkan produksi dan penjualan, memperkuat efisiensi operasional dan biaya, serta mengoptimalkan bauran produk dan pasar.
Perseroan juga akan menyesuaikan strategi penjualan dengan kebutuhan pelanggan dan kondisi pasar, termasuk memperkuat pasar domestik maupun ekspor dengan tetap menjaga kualitas produk.
Pendekatan serupa diterapkan Kideco Jaya Agung yang merupakan bagian dari PT Indika Energy Tbk. (INDY).
Melalui Kideco, INDY mencatat produksi sebesar 15,2 juta ton pada semester I/2026 dan masih berada di jalur untuk mencapai target produksi tahunan sebesar 30,3 juta ton.
Senior Vice President and Head of CEO Office, Corporate Communications, and Sustainability INDY Ricky Fernando mengatakan capaian produksi tersebut membuat target tahunan Kideco tetap on track.
“Dengan capaian Kideco pada semester I/2026, kami tetap on track untuk mencapai target produksi tahun 2026 sebesar 30,3 juta ton,” ujar Ricky.
Menurut dia, pendapatan dan laba Kideco akan tetap bergantung pada tiga faktor utama, yakni perkembangan harga batu bara, volume penjualan, dan biaya operasional.
INDY memperkirakan harga batu bara pada semester II/2026 bergerak di kisaran level saat ini. Perusahaan menggunakan harga ICI 4 yang berada di sekitar US$60 per ton sebagai salah satu acuan.
Dalam menjaga kinerja operasional, Kideco akan berfokus pada pencapaian target produksi, peningkatan efisiensi biaya, dan pemeliharaan keandalan operasional.
Indika Energy juga akan terus mencermati perkembangan pasar dan menyesuaikan langkah operasional secara terukur sesuai kondisi yang berlangsung.
Sementara itu, manajemen PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dalam earning call, memaparkan produksi batu bara pada semester I/2026 mencapai 38,5 juta ton, meningkat 7% dibandingkan 35,9 juta ton pada semester I/2025.
Peningkatan produksi terutama ditopang oleh perbaikan kinerja kontraktor di Arutmin, sementara produksi KPC relatif stabil secara tahunan. Produksi Arutmin meningkat dari 10,6 juta ton menjadi 13,5 juta ton, sedangkan produksi KPC turun tipis dari 25,3 juta ton menjadi 25 juta ton.
Kenaikan produksi tersebut diikuti peningkatan penjualan. BUMI mencatat penjualan batu bara sebesar 38,8 juta ton pada semester I/2026, naik 12% dari 34,8 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi harga, weighted average realised selling price atau harga jual rata-rata BUMI meningkat menjadi US$62,9 per ton dari US$61,3 per ton pada semester I/2025. meningkat menjadi US$62,9 per ton dari US$61,3 per ton pada semester I/2025.
Kenaikan harga tersebut mencerminkan kondisi pasar yang masih mendukung. Namun, ruang margin perseroan tetap menghadapi tekanan karena biaya produksi ikut meningkat.
Biaya produksi BUMI pada semester I/2026 mencapai US$43,1 per ton, naik 2% dari US$42,2 per ton pada semester I/2025. Perseroan menyebut kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh harga bahan bakar yang naik signifikan sebesar 16% pada semester I/2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan biaya terlihat pada dua anak usaha. Biaya produksi KPC meningkat dari US$44,4 per ton menjadi US$45,4 per ton, sedangkan biaya produksi Arutmin naik dari US$36,9 per ton menjadi US$38,9 per ton.
Untuk sepanjang 2026, BUMI mempertahankan panduan penjualan sebesar 82 juta–84 juta ton. Target tersebut terdiri atas penjualan KPC sebesar 53 juta–54 juta ton dan Arutmin sebesar 29 juta–30 juta ton.
Perseroan juga mempertahankan asumsi harga FOB sebesar US$60–US$62 per ton dan biaya produksi sebesar US$42–US$44 per ton.
Panduan tersebut menunjukkan BUMI masih melihat ruang untuk mempertahankan kinerja meski harga batu bara berada jauh di bawah level puncak beberapa tahun sebelumnya. ASP KPC dan Arutmin secara konsolidasi pada semester I/2026 sebesar US$62,9 per ton masih berada di bawah US$81,3 per ton pada 2023 dan US$71,8 per ton pada 2024.
Di sisi lain, pasar berjangka memberikan indikasi bahwa harga batu bara masih memiliki dukungan pada paruh kedua tahun ini. Data per 30 Juli 2026 menunjukkan harga forward API4 berada pada US$108 per ton untuk Agustus 2026, dan diperkirakan mencapai US$107,50 per ton untuk kuartal III/2026, dan US$111,50 per ton untuk kuartal IV/2026.
Untuk kontrak kalender, API4 berada pada US$111,50 per ton untuk CAL-27 dan US$108,50 per ton untuk CAL-28. Sementara itu, NEWC berada pada US$134 per ton untuk Agustus, US$133,25 per ton untuk kuartal III/2026, dan US$138 per ton untuk kuartal IV/2026.
Level harga forward tersebut memberikan ruang bagi produsen untuk menjaga pendapatan apabila realisasi harga mengikuti perkembangan pasar. Namun, perbedaan antara harga benchmark dan harga jual aktual menjadi hal yang perlu diperhatikan karena realisasi masing-masing perusahaan dipengaruhi kualitas batu bara dan komposisi penjualan.
Bagi para emiten batu bara, peluang dari harga batu bara masih terbuka. Namun, kenaikan biaya produksi, volatilitas permintaan, dan potensi pertumbuhan pasokan membuat efisiensi menjadi faktor penting untuk menentukan seberapa besar penguatan harga dapat diterjemahkan menjadi profitabilitas hingga akhir tahun ini.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman
