Kontribusi Minerba Capai Rp99,3 Triliun September 2024, Realisasi Target 87%

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan penerimaan negara dari sub sektor mineral dan batu bara (minerba) mencapai Rp99,34 triliun per September 2024.

Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batu bara di Kementerian ESDM Hendra Gunawan mengatakan angka itu baru mencapai 87,49% persen penerimaan negara sub sektor minerba tahun ini.

“Sampai di bulan September 2024, kami mencatat penerimaan negara dari subsektor minena sebesar Rp99,34 triliun atau 87,49% dari target,” ucapnya dalam acara Temu Profesi Tahunan (TPT) XXXIII & Kongres XII Perhapi 2024 di Jakarta, Selasa (19/11/2024).

Melihat capaian dana sebesar itu, Hendra mengatakan sub sektor minerba merupakan salah satu pilar utama bagi perekonomian Indonesia.

Kendati, dia menilai sub sektor minerba masih menghadapi sejumlah tantangan. Ini seperti tantangan ekonomi global.

Hendra mengatakan saat ini banyak negara menghadapi resesi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Di sisi lain, sumber daya dan cadangan akan semakin berkurang.

“Ini akan menuntut industri pertambangan mengelola sumber daya dan cadangan secara optimal dengan mengembangkan teknologi dan pertambangan yang semakin efisien dan efektif, serta meningkatkan upaya mengembangkan risiko keselamatan,” imbuhnya.

Hendra mengatakan tantangan lain sub sektor minerba adalah konsensus global. Hal ini khusus terkait isu-isu penting seperti perubahan iklim dan target net zero emission (NZE).

Oleh karena itu, Hendra menyebut praktik pertambangan harus diimbangi dengan pengembangan metode yang ramah lingkungan serta pengurangan emisi.

Tantangan selanjutnya yakni penguatan penerapan prinsip-prinsip environmental, social, and governance (SDG). Hendra menilai SDG di sub sektor minerba diperlukan demi keberlanjutan usaha dan meningkatkan daya saing.

“Pengelolaan lingkungan hidup pertambangan semakin menjadi salah satu aspek fundamental yang diperlukan khususnya di masa transisi energi menuju energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan,” ucap Hendra.

Dia menambahkan bahwa saat ini diperlukan program pertambangan yang komprehensif dan memperhatikan aspek ekonomi, sosial, budaya, maupun lingkungan. Dengan begitu, kesejahteraan akan tetap hadir setelah kegiatan pertambangan berakhir.

Hendra mengingatkan untuk menyelesaikan tantangan di atas, perlu kerja sama dari semua pihak terkait.

“Tantangan di sini dalam pengelolaan pada subsektor mineral dan batu bara harus dilihat dengan positif dan optimisme,” tutup Hendra. Editor : Leo Dwi Jatmiko

Sumber: ekonomi.bisnis.com, 19 November 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top