Korea Zinc Peringatkan Outlook Suram Bisnis Smelter pada 2025

KOREA Zinc Co, perusahaan smelter terbesar di dunia, memperingatkan prospek bisnis peleburan logam bakal sulit pada 2025; karena biaya pemrosesan (fee) yang kian anjlok, ongkos produksi yang meningkat, dan perebutan kendali perusahaan yang berlarut-larut menantang manajemen dan staf.

“Prospek bisnis untuk 2025 tampak sangat buruk,” kata Korea Zinc dalam sebuah pernyataan, dikutip Senin (6/1/2025).

Meningkatnya persaingan untuk bijih dari perusahaan smelter China telah secara signifikan mengurangi fee pengolahan yang dibayarkan penambang kepada perusahaan peleburan untuk pemrosesan, katanya pada Minggu, sementara juga menandai tantangan biaya listrik yang lebih tinggi.

Korea Zinc berada di tengah pertikaian pengambilalihan yang berlarut-larut, dengan pemegang saham terbesar perusahaan, Young Poong Corp, bekerja sama dengan perusahaan ekuitas swasta MBK Partners Ltd pada September 2024 untuk meluncurkan tawaran yang tidak bersahabat.

Perjuangan tersebut telah mengguncang harga saham perusahaan peleburan, menjadi topik pembicaraan utama di perusahaan Korea Selatan, dan terjadi pada saat para perusahaan smelter berjuang melawan fee rendah. 

Ancaman pengambilalihan tersebut “telah menempatkan manajemen dan karyawan Korea Zinc pada posisi yang sulit untuk mengatasi krisis,” kata perusahaan tersebut.

Untuk meningkatkan profitabilitas, perusahaan tersebut mengatakan akan berupaya meningkatkan tingkat pemulihan logam langka seperti indium dan antimon sebesar 20% hingga 30% dari konsentrat seng dan timbal yang diolahnya. 

Hal itu dapat meningkatkan laba kotor sebesar 25,3 miliar won (US$17,2 juta) pada 2025, dan lebih dari 70 miliar won pada 2027, menurut perkiraannya.

Dalam jangka menengah hingga panjang, Korea Zinc berencana untuk terus berinvestasi dalam ekspansi.

Pada Desember, perusahaan tersebut mengatakan akan meningkatkan produksi tembaga menjadi 150.000 ton per tahun pada 2028 dari sekitar 30.000 ton pada 2023. Itu adalah bagian dari strategi untuk melebarkan sayap ke area baru, termasuk logam baterai, daur ulang, dan energi terbarukan. (bbn)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 6 Januari 2025

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top