Laba Antam (ANTM) Tembus Rp 3,66 Triliun, Ditopang Penjualan Emas

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM, emiten pertambangan anggota holding BUMN MIND ID, mencatatkan kinerja positif pada awal 2026 dengan laba bersih yang tumbuh signifikan dan ditopang dominasi penjualan emas di tengah tantangan global.

Pada kuartal I 2026 (Januari–Maret), ANTAM membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 3,66 triliun, meningkat 58 persen dibandingkan Rp 2,32 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini dicapai di tengah fluktuasi harga komoditas, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perlambatan ekonomi global.

Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menyampaikan capaian tersebut tidak lepas dari konsistensi strategi operasional dan keuangan.

“Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan,” ujar Untung Budiharto dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (28/4/2026).

“Sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,” lanjutnya.

Emas jadi penopang utama

Penguatan kinerja ANTAM juga tercermin dari peningkatan EBITDA sebesar 55 persen menjadi Rp 5,05 triliun dari Rp 3,26 triliun pada kuartal I 2025.

Dari sisi operasional, segmen emas menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 81 persen terhadap total penjualan. Penjualan emas tercatat Rp 23,89 triliun, tumbuh 11 persen dari Rp 21,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Volume penjualan emas mencapai 8.464 kilogram atau setara 272.124 troy ounce, seiring penguatan strategi pemasaran domestik.

Untuk menjaga pasokan, ANTAM menandatangani Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Grup pada 4 Maret 2026 guna memastikan kesinambungan bahan baku emas.

Penjualan naik, aset menguat

Secara keseluruhan, penjualan bersih ANTAM mencapai Rp 29,32 triliun pada kuartal I 2026, meningkat 12 persen dari Rp 26,15 triliun pada kuartal I 2025. Penjualan domestik mendominasi sebesar Rp 28,31 triliun atau 97 persen dari total penjualan.

Segmen nikel menyumbang Rp 4,47 triliun atau 15 persen dari total penjualan, naik 19 persen dari Rp 3,77 triliun. Produksi bijih nikel tercatat 3,88 juta wet metric ton (wmt) dengan penjualan 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik.

Sementara itu, produksi feronikel mencapai 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan penjualan 2.803 TNi yang seluruhnya diekspor.

Dari segmen bauksit dan alumina, kontribusi mencapai Rp 879,14 miliar atau 3 persen dari total penjualan, meningkat 24 persen dari Rp 708,75 miliar. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt dengan penjualan 593.476 wmt.

Produksi alumina (chemical grade alumina/CGA) tercatat 49.566 ton, naik 13 persen dari 44.051 ton, dengan penjualan 49.072 ton atau tumbuh 11 persen dari 44.048 ton.

Penguatan operasional tersebut mendorong laba kotor menjadi Rp 5,62 triliun, naik 54 persen dari Rp 3,64 triliun. Laba usaha mencapai Rp 4,50 triliun atau tumbuh 67 persen dari Rp 2,69 triliun.

Selain itu, penghasilan lain-lain meningkat 15 persen menjadi Rp 279,60 miliar dari Rp 243,64 miliar. Laba bersih per saham dasar naik menjadi Rp 141,77 dari Rp 88,69.

Dari sisi neraca, total aset ANTAM tercatat Rp 63,30 triliun pada kuartal I 2026, meningkat 31 persen dari Rp 48,30 triliun. Ekuitas naik 17 persen menjadi Rp 40,41 triliun dari Rp 34,62 triliun.

Posisi kas dan setara kas mencapai Rp 9,04 triliun, naik 31 persen dari Rp 6,92 triliun, mencerminkan fleksibilitas keuangan perusahaan.

Sumber:

– 29/04/2026

Temukan Informasi Terkini

ESDM Dorong 106 Perusahaan Tambang Segera Ajukan RKAB

baca selengkapnya

Pengawasan Ekspor Batu Bara Diminta Diperketat demi Optimalisasi PNBP

baca selengkapnya

Laba Vale (INCO) Melesat, Produksi Nikel Merosot

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top