Laba MIND ID Semester I/2026 Naik jadi Rp20,25 Triliun Meski Cuan dari Freeport Susut

Holding BUMN Industri Pertambangan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID membukukan laba konsolidasi periode berjalan senilai Rp20,25 triliun sepanjang semester I/2026.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim MIND ID semester I/2026 yang dikutip, Jumat (4/9/2026), perolehan laba tersebut naik 2,01% dibandingkan dengan capaian pada semester I/2025 yang mencapai Rp19,85 triliun.

Peningkatan laba MIND ID utamanya didorong oleh kenaikan pendapatan Perseroan. Pendapatan MIND ID sepanjang 6 bulan pertama tahun ini tercatat mencapai Rp106,69 triliun, naik 11,84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp95,39 triliun.

Pos beban pokok pendapatan pada semester I/2026 tercatat mengalami sedikit peningkatan menjadi Rp82,46 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp82,30 triliun.

Alhasil, holding BUMN tambang yang menaungi PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Timah Tbk ini, membukukan laba kotor senilai Rp24,22 triliun atau melesat 85,03% dibandingkan semester I/2025 sebesar Rp13,09 triliun.

Sementara itu, kontribusi bagian laba neto dari Freeport Indonesia mengalami penurunan signifikan. Bagian laba dari Freeport pada semester I/2026 hanya mencapai Rp8,08 triliun. Perolehan ini anjlok 46,52% dibandingkan realisasi pada semester I/2025 yang sebesar Rp15,11 triliun.

Kontribusi bagian laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama pada semester I/2026 tercatat naik signifikan menjadi Rp1,03 triliun, dibandingkan pada semester I/2025 yang mencapai Rp443,19 miliar.

Adapun, per 30 Juni 2026, MIND ID memiliki total aset senilai Rp344,56 triliun. Naik dari posisi aset per 31 Desember 2025 yang senilai Rp307,67 triliun.

Sementara itu, jumlah liabilitas MIND ID per 30 Juni 2026 tercatat mencapai Rp150,56 triliun. Naik dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp135,59 triliun.

Produksi dan Penjualan Freeport Masih Tertekan

Diberitakan Bisnis sebelumnya, produksi tembaga dan emas Freeport masih tertekan sepanjang semester I/2026 seiring proses pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah pascainsiden longsor pada September 2025.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2026 induk usaha PTFI, Freeport-McMoRan Inc. (FCX), produksi tembaga dari operasi Indonesia mencapai 300 juta pound sepanjang Januari–Juni 2026. Angka itu merosot sekitar 54,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 655 juta pound.

Adapun, penjualan tembaga anjlok dari 733 juta pound pada semester I/2025 menjadi 235 juta pound pada semester I/2026.

Sementara itu, produksi emas tercatat 276.000 ounce sepanjang semester I/2026. Angka itu anjlok sekitar 53,6% dibandingkan semester I/2025 yang mencapai 595.000 ounce.

Di sisi lain, penjualan emas turun dari 643.000 ounce pada semester I/2025 menjadi 234.000 ounce pada semester I/2026.

FCX menjelaskan penurunan produksi tersebut merupakan dampak dari masih berlangsungnya proses peningkatan kapasitas (ramp-up) tambang bawah tanah Grasberg Block Cave setelah insiden longsor (external mud rush) yang sempat mengganggu kegiatan operasional.

“Penjualan tembaga dan emas PTFI lebih rendah dibandingkan tahun lalu karena tingkat operasi yang lebih rendah selama proses phased ramp-up Grasberg Block Cave,” tulis manajemen FCX dalam laporan keuangannya, dikutip Selasa (4/8/2026).

Meski demikian, perusahaan menyatakan proses pemulihan berjalan sesuai rencana. Setelah menyelesaikan kegiatan remediasi dan restorasi, blok produksi 2 dan 3 kembali beroperasi pada akhir Maret 2026.

Sepanjang kuartal II/2026, PTFI diklaim berhasil mencapai target produksi sesuai rencana pemulihan bertahap.

FCX memperkirakan tingkat operasi PTFI akan mencapai sekitar 65% pada semester II/2026, meningkat menjadi sekitar 80% pada pertengahan 2027, sebelum mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.

Seiring dengan tingkat operasi tersebut, PTFI memproyeksikan kontribusi perusahaan kepada negara turun menjadi US$2,6 miliar atau sekitar Rp47,07 triliun (asumsi kurs Rp18.105 per dolar AS) pada 2026. Nilai tersebut sekitar 40% lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai US$4,3 miliar atau sekitar Rp77,87 triliun.

“Kalau kita lihat di tahun 2026 penerimaan negara yang terdiri dari pajak, dividen dan royalti itu memang menurun menjadi US$2,6 miliar,” kata Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR, Selasa (14/7/2026).

Tony menjelaskan proyeksi penerimaan negara pada 2026 terdiri atas pajak sebesar US$1 miliar, dividen US$1,1 miliar, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar US$500 juta. Dividen tersebut akan diterima negara melalui holding BUMN pertambangan, MIND ID.

Menurut Tony, penerimaan negara diperkirakan kembali meningkat seiring dengan pulihnya produksi tambang. Pada 2027, kontribusi PTFI diproyeksikan mencapai US$4,7 miliar yang terdiri atas pajak US$1,9 miliar, dividen US$1,9 miliar, dan PNBP US$800 juta.

Selanjutnya, penerimaan negara diperkirakan kembali naik pada 2028 menjadi US$7,1 miliar. Komposisi penerimaan negara itu meliputi pajak US$3,1 miliar, dividen US$2,7 miliar, dan PNBP sebesar US$1,3 miliar.

Pada 2029, kontribusi diproyeksikan tetap berada di kisaran US$7,1 miliar dengan komposisi pajak US$3,3 miliar, dividen US$2,6 miliar, dan PNBP US$1,3 miliar.

Adapun kontribusi tertinggi diperkirakan terjadi pada 2030, yakni mencapai US$8 miliar yang terdiri atas pajak US$3,2 miliar, dividen US$3,5 miliar, dan PNBP US$1,3 miliar.

“Dan kita lihat begitu masuk sudah kapasitas produksi penuh kita lihat bahwa penerimaan negara akan bisa melebihi US$7 miliar per tahun,” ujar Tony. Editor : Denis Riantiza Meilanova

Sumber:

– 04/09/2026

Temukan Informasi Terkini

Menilik Kinerja Bukit Asam (PTBA) 10 Tahun Terakhir

baca selengkapnya

Resmi, BUMI Akuisisi 100% Saham Loyal Metals, Perusahaan Tambang Emas Australia

baca selengkapnya

Nikel Jadi Mesin Pertumbuhan Antam (ANTM), Maybank Pertahankan Target Harga Rp 4.700

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top