Di tahun 2026, laba bersih PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diprediksi naik hingga 355% setelah perseroan mengamankan kuota produksi nikel 8 juta ton. Ini akan menjadi amunisi bagi saham INCO untuk melambung menuju target harga tinggi. Berdasarkan riset CLSA yang dipublikasi di Jakarta, kemarin disebutkan, INCO berniat menambang dan menjual habis kuota itu pada semester I-2026.
Ini memunculkan proyeksi perseroan bakal mengajukan lagi tambahan kuota lebih tinggi pada pertengahan tahun. INCO punya rencana produksi yang agresif, sehingga ada potensi penambahan kuota tahun ini. Alhasil, laba bersih perseroan berpeluang naik hingga tiga kali. Sementara itu, Macquarie mencatat, revisi kuota bagi INCO juga terbuka lebar. Sebab, proyek HPAL Bahodopi dan Sorowako belum siap, sedangkan proyek Sorowako sudah mendapatkan persetujuan penuh.
Broker ini menurunkan proyeksi penjualan bijih nikel INCO menjadi 8,5 juta ton tahun ini, yang hanya satu jenis yakni saprolit. Tadinya, proyeksi penjualan nikel INCO mencapai 13 juta ton, terdiri atas saprolit 5 juta ton dan limonit 8 juta ton. “Tetapi, dampak dari perubahan ini terbatas, karena ASP bijih nikel limonit tiga kali lebih besar dari saprolit. Kami juga memangkas proyeksi produksi nikel matte INCO menjadi 61 ribu ton dari 71 ribu ton,” tulis Macquarie.
Macquarie menilai, pembatasan kuota produksi nikel bakal mengangkat harga di pasar global. Bagi broker ini, kenaikan harga nikel lebih berimbas ke harga saham ketimbangkan produksi. Ini membuka potensi rerating semua saham nikel. Macquarie memprediksi pendapatan dan laba bersih INCO tahun 2026 mencapai US$ 1,6 miliar dan US$ 337 juta vs 2025 US$ 1miliar dan US$74 juta. Artinya, prediksi lonjakan laba bersih INCO versi Macquarie mencapai 355%, lebih besar CLSA.
Broker ini menyematkan rekomendasi outfperform saham INCO dengan target hagra Rp8.800. Estimasi total shareholder return (TSR) mencapai 30%, menggunakan harga saat riset dibuat Rp6.675. Per Novemver 2025, PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan pendapatan sebesar US$902 juta atau setara Rp15,03 triliun (asumsi kurs Rp16.971 per US$).
Di mana pendapatan perusahaan didorong oleh peningkatan volume produksi nikel matte dan bijih nikel saprolit (kadar tinggi). “Produksi nikel matte itu melebihi bujet yang dicanangkan di tahun 2025. Demikian juga, penjualan ore bijih sampai dengan akhir tahun itu juga melebihi bujet yang dicanangkan di tahun 2025,” kata Presiden Direktur INCO, Bernardus Irmanto.
