Emiten pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan kenaikan laba bersih hingga dua kali lipat secara tahunan meskipun volume produksi mengalami penurunan terencana.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, laba bersih INCO tercatat mencapai US$43,61 juta atau sekitar Rp757,54 miliar. Angka tersebut melonjak 100,10% dari periode sama tahun sebelumnya yakni US$21,79 juta.
Pertumbuhan laba ini ditopang oleh kenaikan pendapatan sebesar 23,34% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$252,66 juta. Padahal, dari sisi operasional, produksi nikel matte perseroan turun menjadi 13.620 metrik ton dari sebelumnya mencapai 17.027 metrik ton pada kuartal I/2025.
CEO Vale Indonesia Bernardus Irmanto menjelaskan hasil produksi itu sesuai dengan rencana optimalisasi kegiatan pemeliharaan, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester I/2026.
“Terlepas dari tantangan operasional, kami menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” pungkas Bernardus dalam keterangan resmi, dikutip Senin (4/5/2026).
Guna mendukung keberlanjutan operasional dan proyek pertumbuhan strategis, INCO telah menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$139,0 juta sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Realisasi capex itu dialokasikan untuk mendukung transisi penting perseroan yang mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan secara bersamaan, yaitu Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Di blok Pomalaa, perseroan bahkan telah mencatatkan penjualan pertama bijih nikel limonit pada awal tahun ini.
“Kami memperluas portofolio komersial melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan,” ucap Bernardus.
Di sisi lain, kinerja perseroan terbantu oleh membaiknya harga nikel dunia. Vale mencatat harga rata-rata realisasi nikel matte sebesar US$14.213 per metrik ton pada kuartal I/2026, atau meningkat 15% dari kuartal sebelumnya.
Adapun 2026 juga menjadi tahun penuh pertama penjualan nikel matte dengan tingkat pembayaran 82% yang memberikan visibilitas margin lebih baik.
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan INCO tercatat naik sebesar 4,77% YoY menjadi US$195,92 juta. Meski demikian, efisiensi pada pos bahan bakar seperti HSFO, diesel, dan batu bara menekan biaya tunai per unit tetap kompetitif.
Hingga akhir Maret 2026, total aset perseroan berada di level US$3,34 miliar dengan posisi kas dan setara kas sebesar US$220,11 juta. Perseroan juga baru saja menandatangani Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta pada 23 April 2026 untuk memperkuat strategi keuangan berkelanjutan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Dwi Nicken Tari
