Manfaatkan Reli Harga Emas, MDKA Percepat Belanja Modal Tambang Emas Pani

PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mempercepat realisasi belanja modal Tambang Emas Pani seiring melonjaknya harga emas global. Langkah tersebut membuka peluang percepatan pencapaian produksi puncak tambang yang ditargetkan mencapai 500.000 ounce per tahun.

GM Corporate Communication MDKA Tom Malik mengatakan, dalam feasibility study (FS) yang disusun pada Maret 2024, perseroan semula merencanakan konstruksi fasilitas pengolahan carbon-in-leach (CIL) dimulai pada 2027.

“Tadinya mau kita mulai konstruksi tahun depan dan mulai beroperasi 2029. Mungkin manajemen melihat dengan harga emas seperti ini bisa dimajukan. Jadi tahun ini kita akan mulai konstruksi itu, dengan harapan 2028 sudah mulai produksi. Maju setahun,” ujarnya saat ditemui di Kantor Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Pada rencana semula, proses penambangan emas di Tambang Emas Pani di fase awal akan menggunakan metode pengolahan heap leach dengan kapasitas 7 juta ton bijih per tahun, dengan target produksi sekitar 140.000 ounces emas per tahun.

Agar mudah dipahami, CIL adalah metode ekstraksi emas di mana pelindian (cyanidation) dan adsorpsi emas oleh karbon aktif terjadi dalam satu rangkaian tangki. Sedangkan, heap leach adalah metode ekstraksi emas dengan menumpuk bijih di atas pad leach, lalu disiram larutan sianida dari atas.

Perbedaan kedua metode tersebut adalah proses CIL lebih cepat dengan recovery (emas yang terambil) lebih besar. Metode ini memungkinkan margin per ton yang lebih besar, namun di sisi lain membutuhkan capital expenditure (capex) yang lebih besar. Metode penambangan ini digunakan oleh Freeport. Sebaliknya, metode heap leach membutuhkan capex yang lebih minim, namun recovery-nya rendah dan cenderung menawarkan margin keuntungan yang tipis.

Tom melanjutkan, pembangunan proyek CIL di Tambang Emas Pani semula akan dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama dengan target kapasitas produksi 7,5 juta ton bijih emas per tahun. Kemudian, setelah 5 tahun beroperasi dinaikkan menjadi 12 juta ton biijh emas per tahun. Dengan percepatan konstruksi fasilitas CIL, perseroan memangkas satu fase dan langsung menargetkan kapasitas 12 juta ton bijih emas.

Gabungan kapasitas heap leach dan CIL akan mencapai 19 juta ton bijih emas per tahun, dengan potensi produksi puncak hingga 500.000 ounces emas per tahun. Dalam hasil feasibility study (FS) awal perseroan, produksi puncak di angka tersebut baru dapat dicapai di medio 2033-2034.

“Jadi itu nanti akan ketarik maju, ketarik lebih dari setahun. Karena kan langsung ke [target] 12 juta ton bijih emas,” ujarnya.

Adapun, FS yang disusun MDKA dua tahun lalu tersebut masih mengacu pada harga emas global yang masih di sektiar US$1.800 sampai US$2.000 per ounce. Hari ini, pada penutupan pasar Kamis (29/1) harga emas di pasar spot (XAU) naik 2,26% ke US$5.539,45 per ounce.

“Dengan ini [kenaikan harga emas] akhirnya masuk akal, cash flow di depan lebih tinggi sehingga mampu modali ekspansi berikutnya,” ujar Tom.

Meski tak sebut angkanya, Tom mengatakan percepatan tahap konstruksi ini mengubah rencana alokasi penggunaan capital expenditure (capex) yang sudah disusun perseroan.

“Karena harga emas seperti sekarang menjadi lebih visible, atau lebih berani menginvestasikan [realisasi capex] lebih awal. Kalau dari nilainya tidak berubah, tapi timing-nya [belanja capex] jadi maju,” pungkasnya.

Melansir dokumen FS MDKA, perseroan mengestimasi kebutuhan investasi modal sebesar US$253,6 juta untuk pre-production heap leach. Perseroan membutuhkan tambahan US$85,6 juta untuk pengembangan fasilitas dalam periode 2026 hingga 2028.

Sementara itu, untuk proyek CIL membutuhkan investasi modal sebesar US$632,5 juta dalam tahap pre-production. Selanjutnya, dibutuhkan lagi tambahan investasi modal sebesar US$293,8 juta untuk pengembangan lanjutan dalam medio 2028 sampai 2033.

Dalam FS tersebut juga menghitung sustaining capex atau belanja modal tahunan yang dibutuhkan untuk mempertahankan operasi Tambang Emas Pani tetap berjalan. Untuk proyek heap leach, dibutuhkan capex per tahunnya US$1,4 sampai US$3,4 juta dari tahap pra produksi sampai 2028. Sedangkan untuk proyek CIL membutuhkan capex US$2,9 sampai US$15,2 juta per tahun dari fase pre produksi sampai 2033.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman

Sumber:

– 29/01/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Jumat, 30 Januari 2026

baca selengkapnya

Izin Tambang Martabe Belum Resmi Dicabut, ESDM: Tunggu Penyelidikan Satgas PKH

baca selengkapnya

Petrosea Perkuat Ekosistem Bisnis melalui Pendirian Anak Usaha Baru Sebagai Langkah Strategis untuk Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top