Masa Depan Cerah Petrosea

PT PETROSEA Tbk (PTRO) memiliki masa depan cerah setelah mengamankan kontrak pertambangan baru senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 22 triliun. Angka ini meliputi 60% dari backlog kontrak perseroan di 2023 yang sebesar US$ 2,3 miliar. Basis kontrak yang mayoritas bersifat jangka menengah dan panjang melindungi Petrosea dari ancaman turbulensi. 

Masa depan Petrosea kian bertambah mentereng berkat backup penuh dari pengendali barunya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang tidak lain dan tidak bukan merupakan portofolio pertambangan Barito Group, milik konglomerat Prajogo Pangestu (PP). Sokongan Grup Barito terbukti telah memberikan tenaga baru bagi PTRO dalam meraih kontrak di segmen penambangan dan EPC dengan capaian US$ 1,8 miliar atau ekuivalen Rp 28,38 triliun. 

Analis Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari memperkirakan, perolehan kontrak baru PTRO itu akan mendongkrak pendapatan dan laba perseroan dalam beberapa tahun ke depan. Dari sisi pendapatan di segmen EPC, perseroan diestimasikan meraup kenaikan sebesar 152% menjadi US$ 747 miliar. Sedangkan, pendapatan di segmen penambangan akan melejit 60% menjadi US$ 3,7 miliar. 

Proyeksi pertumbuhan ini, kata Yoga, pada gilirannya akan membuat leverage PTRO lebih baik dibanding posisi sebelumnya. Tidak kalah penting, basis kontrak PTRO yang kebanyakan bersifat jangka menengah dan panjang juga akan membantu perseroan mempertahankan aliran pendapatannya sekaligus mengurangi risiko likuiditas di masa depan. 

“Kami memperkirakan, CAGR perseroan tumbuh kuat sebesar 59% dari 2023 hingga 2028. Pertumbuhan ini berpotensi menjadi pertumbuhan tertinggi di antara pemain-pemain sejenis di industri,” tulis Yoga dalam risetnya yang dipublikasi dikutip, Selasa (12/11). 

Lagi-lagi, proyeksi pertumbuhan laba emiten berkode saham PTRO tersebut paralel dengan melesatnya volume kontrak di segmen penambangan dan kontribusi tambahan dari segmen batu bara. Menurut Yoga, tambahan kontrak yang substansial berpotensi mengakselerasi pertumbuhan pertumbuhan pendapatan PTRO di masa mendatang dengan pertumbuhan CAGR yang lebih tinggi ketimbang pertumbuhan CAGR selama empat tahun terakhir. 

Terkonsolidasinya PTRO ke dalam ekosistem Grup Petrindo juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perseroan untuk melakukan ekspansi dan diversifikasi bisnis. Mengingat, CUAN selaku induk masih memiliki aset tambahan yang belum dieksploitasi seperti emas, tembaga, perak, dan siliki yang tentunya potensi ini bisa menjadi mesin pendapatan baru bagi PTRO. 

“Dengan demikian, kami melihat potensi kenaikan yang signifikan bagi PTRO dalam memperoleh proyek baru yang dapat mendorong pertumbuhan pendapatan yang substansial di masa mendatang,” imbuh Yoga.

Masa depan cerah PTRO juga diperkuat dengan neraca keuangan perseroan yang cukup solid, sehingga berbekal modal tebal, langkah perseroan untuk melakukan melakukan ekspansi bisnis akan berjalan mulus.

Per September 2024, PTRO tercatat memiliki rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 1,0x, jauh di bawah batas 3,5x yang ditetapkan para pemberi pinjaman. Rasio ini diperkirakan turun menjadi 0,7x pada 2028, seiring dengan perkiraan pertumbuhan laba yang kuat dan kebijakan pembayaran dividen yang stabil sebesar 30%. 

Bahkan, PTRO baru-baru ini telah menggenggam fasilitas kredit sebesar $480 juta dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) alias BCA yang akan digunakan untuk mendukung inisiatif pertumbuhan dan refinancing utang.

Tidak berhenti di situ, rasio cakupan bunga (ICR) PTRO juga tercatat sebesar 1,7x pada September 2024. Dengan proyeksi CAGR laba operasional sebesar 37%, maka ICR perseroan diperkirakan mencapai 9,5x pada 2028.

“Kami melihat, risiko likuiditas bagi pemegang obligasi akan dapat dikelola dengan baik dalam hal likuiditas. Mengingat, pinjaman bank yang ada memiliki jangka waktu lebih panjang di mana sebagian besar di atas 5 tahun, yang akan menguntungkan bagi pemegang obligasi,” tutup Yoga. Editor: Gesa Vitara

Sumber: investor.id, 13 November 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top