HARGA saham batu bara sepanjang pekan masih membukukan kenaikan tipis 0,07%. Namun, jika ditarik satu bulan ke belakang, harga batu bara mengakumulasi penurunan 4,38%.
Lesunya industri baja di China menyebabkan penyerapan batu bara global melambat. Situasi ini menekan harga komoditas tersebut.
Meski demikian, sentimen tersebut bukan berarti menghapus prospek batu bara RI. Meski fluktuatif, harga batu bara cenderung lebih menguntungkan dibanding periode-periode sebelumnya.
“Dalam satu tahun terakhir, rata-rata ekspor batu bara setiap bulan sekitar US$2,5 miliar, menyiratkan angka tahunan sebesar $30 miliar dan berkontribusi terhadap 12%-15% dari total ekspor di Indonesia,” ujar analis Algo Research Alvin Baramuli, dikutip Senin (30/9/2024).
Itu berarti bahwa sektor batu bara tetap menjadi salah satu mesin terbesar bagi pertumbuhan ekspor Indonesia, berada di posisi kedua setelah produk logam dasar.
Saat ini, harga batu bara diperdagangkan di kisaran US$130-US$150/ton, lebih rendah dari US$400/ton pada tahun 2022 ketika perang Rusia-Ukraina pertama kalinya terjadi.
Meski demikian, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dari rata-rata $80/ton pada tahun 2017-2019.
Bahkan, keseimbangan harga baru ini terjadi ketika banyak negara barat yang menutup pembangkit listrik tenaga batu bara dan melemahnya ekonomi Tiongkok, sehingga hanya menyisakan permintaan dari negara-negara berkembang seperti India atau ASEAN.
“Pasokan baru batu bara juga tidak mungkin meningkat, sehingga kisaran harga baru ini kemungkinan besar bisa menjadi normal baru yang seharusnya disambut positif oleh para pemain yang ada,” jelas Alvin.
Itu merupakan jawaban mengapa sebagian besar perusahaan batubara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menghasilkan laba yang jauh lebih baik pada tahun 2022-2024 dibandingkan dengan tahun 2017-2019.
Membaiknya laba bersih pada akhirnya juga menyebabkan imbal hasil dividen yang lebih tinggi bagi investor.
Salah satu emiten yang masih diuntungkan oleh prospek harga batu bara adalah, PT United Tractors Tbk (UNTR).
Entitas usaha PT Astra International Tbk (ASII) itu memang tengah mencari bisnis lain pengganti batu bara. Namun, ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Selama penantian ini, UNTR masih akan terimbas positif oleh stabilnya harga batu bara. Stabilnya harga membuat industri batu bara bisa terus menggeliat, hingga turut mempengaruhi permintaan alat berat.
Stabilitas harga juga berimbas positif terhadap entitas UNTR di sektor batu bara, yakni Tuah Turangga Agung.
Mempertimbangkan situasi tersebut, analis OCBC Sekuritas Budi Rustanto merekomendasikan buy saham UNTR dengan target harga Rp30.500/saham. (red)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 30 September 2024
