Harga batu bara akhirnya bangkit setelah ambruk lima hari beruntun.
Merujuk Refiniv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (8/7/2026) ditutup di posisi US$ 130,85 per ton. Harganya melesat 2,27%.
Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 23 Juni 2026.
Pelemahan ini memutus tren negatif batu bara yang sudah turun 1,2% dalam lima hari beruntun sebelumnya.
Lonjakan harga batu bara ditopang harga minyak dan permintaan.
Pada perdagangan Rabu kemarin, kontrak berjangka Brent ditutup naik 5,43% menjadi US$78,19 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,37% ke US$73,52 per barel.
Minyak dan batu bara adalaj komoditas yang saling memengaruhi karena bisa saling mensubstitusi.
Permintaan batu bara juga masih tinggi.
Dikutip dari Reuters, Vietnam tengah mempertimbangkan pembangunan lebih banyak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara guna memastikan kebutuhan energi domestik tetap terpenuhi.
Langkah ini diambil di tengah perang Iran yang semakin memperumit pengembangan infrastruktur gas alam cair (LNG) di negara tersebut.
Vietnam, yang merupakan salah satu pusat manufaktur terbesar di Asia Tenggara, berupaya meningkatkan kapasitas pembangkit listrik untuk menopang pertumbuhan ekonominya yang pesat. Mereka juga tetap fokus pada pengembangan energi terbarukan dan LNG.
Namun, pemerintah Vietnam menyatakan konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah telah mengganggu keamanan pasokan LNG.
“Dalam beberapa waktu terakhir, konflik yang berkembang di Timur Tengah telah memengaruhi keamanan pasokan LNG, sehingga muncul kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi,” kata pemerintah Vietnam dalam pernyataannya pada Rabu (8/7/2026).
Karena itu, pemerintah membuka peluang untuk merevisi Rencana Pengembangan Ketenagalistrikan Nasional dengan menambah porsi pembangkit berbahan bakar batu bara dalam bauran energi.
Sebelumnya, Vietnam menargetkan memiliki pembangkit listrik berbasis LNG dengan kapasitas gabungan 22,5 gigawatt (GW) pada 2030.
Namun hingga kini realisasinya baru mencapai sekitar 7,3% dari target tersebut, terutama akibat kendala regulasi dan minimnya minat investor. Perang Iran juga semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan LNG.
Dalam rencana yang berlaku saat ini, Vietnam menargetkan kapasitas pembangkit listrik terpasang mencapai 183-236 GW pada 2030. Dari total tersebut, PLTU batu bara diproyeksikan menyumbang 13,1%-16,9% bauran energi, sementara LNG berkontribusi 9,5%-12,3%.
Data perusahaan listrik negara Vietnam (EVN) menunjukkan produksi listrik pada semester I-2026 mencapai 171,5 miliar kilowatt-jam (kWh), naik 9,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari total produksi tersebut, 54,5% masih berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara.
Ekspor RI
Ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut turun pada Juni 2026 dan kembali berada di bawah level 40 juta ton. Meski demikian, volumenya masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, ekspor batu bara Indonesia pada Juni mencapai 39,22 juta ton, naik 17,04% dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 33,51 juta ton. Namun secara bulanan, ekspor turun 1,97% dari 40,01 juta ton pada Mei 2026.
Ekspor ke kawasan Asia mencapai 38,65 juta ton, atau sekitar 98,5% dari total pengiriman. Angka tersebut naik 15,08% secara tahunan, tetapi turun 2,59% dibandingkan Mei.
China masih menjadi tujuan utama ekspor batu bara Indonesia dengan volume 16,52 juta ton, melonjak 50,79% dibandingkan tahun lalu, meski turun 2,54% dari bulan sebelumnya.
Sementara itu, ekspor ke India mencapai 6,49 juta ton, turun 9,31% secara tahunan namun naik 4,37% secara bulanan. Pengiriman ke Filipina meningkat menjadi 3,32 juta ton, sedangkan ekspor ke Vietnam mencapai 2,58 juta ton dan ke Malaysia sebesar 2,37 juta ton.
Secara kumulatif, ekspor batu bara Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai 227 juta ton, turun tipis 0,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, ekspor ke China selama enam bulan pertama tahun ini justru naik 6,21% menjadi 87,49 juta ton.
China Masih Lesu
Pasar batu bara termal di mulut tambang China masih lesu, meskipun beberapa tambang mulai mencoba menaikkan harga secara terbatas.
Permintaan batu bara masih lemah, sehingga harga di mulut tambang terus tertekan.
Persediaan batu bara di pembangkit listrik masih tinggi, sementara konsumsi listrik belum cukup kuat untuk menguras stok. Konsumsi batu bara harian di enam grup pembangkit listrik pesisir utama China tercatat 786.300 ton per hari, turun 7,3% dibandingkan tahun lalu.
Produksi listrik tenaga air (PLTA) yang tinggi akibat curah hujan deras di wilayah Sungai Yangtze dan dampak Topan Maysak semakin mengurangi kebutuhan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Karena stok masih melimpah, pembangkit listrik lebih memilih memenuhi kebutuhan melalui kontrak jangka panjang dan hanya membeli batu bara spot jika benar-benar diperlukan. Hal ini membuat permintaan di pasar spot tetap lemah.
Akibatnya, stok batu bara di tambang terus meningkat dan banyak perusahaan tambang terpaksa menurunkan harga untuk mendorong penjualan. Di Ordos (Inner Mongolia), harga batu bara turun 10-20 yuan/ton, sedangkan di Yulin (Shaanxi) dan Shanxi juga terjadi pemotongan harga. (mae/mae)
