PT Merdeka Copper Gold, Tbk (MDKA) membukukan pendapatan sebesar 1,89 miliar dollar AS sepanjang 2025.
Pendapatan MDKA setara Rp 32,06 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.967 per dollar AS.
Angka ini turun 15,62 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,24 miliar dollar AS.
Kinerja keuangan terkonsolidasi tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 dinilai mencerminkan peningkatan skala operasi serta kemajuan dalam pengembangan proyek-proyek yang diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan Merdeka Group ke depan.
Presiden Direktur Merdeka Albert Saputro menyatakan sepanjang 2025, pihaknya terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan skala operasi dan pengembangan proyek-proyek strategis.
“Dengan kemajuan signifikan di seluruh proyek kami dan kontribusi yang semakin kuat dari entitas anak usaha, kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
Sepanjang 2025, MDKA membukukan EBITDA sebesar 373 juta dollar AS didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) emas sebesar 32 persen secara tahunan (yoy) dan peningkatan produksi bijih nikel sebesar 44 persen secara tahunan.
“Serta mencerminkan peningkatan skala operasi dan kemajuan signifikan proyek strategis perseroan,” imbuh dia.
Albert menjelaskan, kontribusi dari portofolio bisnis yang terdiversifikasi terus menjadi fondasi utama kinerja MDKS.
Pada 2025, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 103.156 ounces emas. Sementara, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan operasi tambang dan fasilitas pengolahan Tambang Emas Pani di 2025.
Memasuki 2026, Tambang Emas Pani memulai produksi emas perdana pada 14 Februari 2026 serta merealisasikan penjualan emas pertama kepada PT Aneka Tambang (Persero), Tbk (ANTM) pada 16 Maret 2026 menandai dimulainya fase produksi dan monetisasi yang akan mendukung peningkatan kinerja keuangan secara signifikan ke depan.
Didukung oleh rencana produksi emas dari PT Merdeka Gold Resources Tbk serta struktur biaya yang kompetitif, Albert bilang, kontribusi segmen emas terhadap produksi dan arus kas grup ke depan akan meningkat secara signifikan.
Pada 2026, PT Merdeka Gold Resources, Tbk menargetkan produksi 100.000-115.000 ounces emas di samping produksi berkelanjutan dari Tambang Emas Tujuh Bukit sebesar 80.000–90.000 ounces.
Di segmen nikel, PT Merdeka Battery Materials, Tbk (MBMA), anak usaha MDKA lainnya, terus menunjukkan kinerja operasional yang solid, dengan proyek-proyek utama berjalan sesuai rencana.
Sepanjang 2025, produksi tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) meningkat kuat, dengan produksi saprolit mencapai sekitar 7 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit sekitar 14,7 juta wmt.
Pengembangan fasilitas hilirisasi juga terus berjalan sesuai rencana. Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia, anak usaha MBMA, berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh.
Sementara pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas terpasang sebesar 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP terus berjalan sesuai jadwal dengan commissioning lini produksi pertama pada pertengahan 2026.
Untuk 2026, Albert menyebut, MBMA merencanakan peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8-10 juta wmt sementara produksi bijih limonit ditargetkan di kisaran 20-25 juta wmt.
MBMA memperkirakan efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan SCM hingga mencapai swasembada bijih saprolit 100 persen untuk ketiga pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Perseroan pada 2026.
Lebih lanjut, MDKA juga terus memperkuat implementasi prinsip ESG melalui peningkatan keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, efisiensi energi, serta pengembangan masyarakat, sejalan dengan komitmen perseroan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
