PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) memperoleh fasilitas kredit senilai US$150 juta atau setara dengan Rp2,56 triliun (kurs JISDOR Rp17.122), menambah amunisi pendanaan di tengah kebutuhan ekspansi dan penguatan struktur permodalan.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/4/2026), manajemen menyampaikan fasilitas kredit tersebut diperoleh dari para kreditur berdasarkan perjanjian yang diteken pada April 2026.
Adapun, para kreditur yang dimaksud antara lain Kasikornbank Public Company Ltd., PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN), dan PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS).
Dana pinjaman ini menjadi bagian dari strategi pembiayaan untuk mendukung aktivitas usaha yang terintegrasi di sektor pertambangan.
Sebagai perusahaan induk dari grup usaha pertambangan, Merdeka Gold menjalankan kegiatan eksplorasi, produksi, hingga pengolahan mineral secara terintegrasi. Tambahan fasilitas ini memperkuat fleksibilitas keuangan perseroan dalam menjalankan proyek-proyek yang sedang berjalan.
Fasilitas kredit tersebut memiliki tenor hingga April 2028 atau 12 bulan setelah tanggal penyelesaian sejak 10 April 2027 dengan opsi perpanjangan. Perseroan dan para pemberi pinjaman telah menyepakati syarat dan ketentuan dalam perjanjian kredit sebagai bagian dari transaksi.
Selain menopang kebutuhan pendanaan, tambahan utang ini juga mencerminkan akses perseroan terhadap sumber pembiayaan eksternal di tengah dinamika industri pertambangan. Struktur pendanaan menjadi krusial seiring dengan kebutuhan belanja modal yang tinggi pada sektor ini.
Manajemen menjelaskan fasilitas pinjaman tersebut untuk membiayai semua tujuan korporasi umum grup, termasuk belanja modal pembiayaan, pembiayaan intra-grup, dan persyaratan modal kerja lain dari grup, serta pembayaran biaya transaksi dan pengeluaran terkait.
“Melalui Perjanjian Fasilitas ini, perseroan memperoleh sumber pendanaan yang efisien guna mendukung keberlanjutan kegiatan usaha grup perseroan,” tulis manajemen.
Berdasarkan laporan keuangan Merdeka Gold akhir Desember 2025, EMAS mencatatkan rugi bersih sebesar US$27,49 juta pada 2025 atau melonjak dari kerugian tahun sebelumnya yang mencapai US$12,69 juta.
Penurunan tajam terjadi pada pos pendapatan yang anjlok 92,46% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$131.964, atau dari sebelumnya US$1,74 juta pada 2024.
Dari sisi neraca, total aset EMAS tumbuh 39,82% YoY menjadi US$740,63 juta pada akhir 2025. Hal ini sejalan dengan kenaikan liabilitas sebesar 40,13% ke US$359,70 juta dan ekuitas meningkat 39,52% menjadi US$380,93 juta.
Namun, posisi kas dan bank entitas anak PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) ini mengalami penurunan sebesar 32,71% YoY, dari US$67,33 juta pada akhir 2024 menjadi US$45,30 juta pada 2025. Di sisi lain, arus kas dari aktivitas operasi dilaporkan mencapai 71% dari target yang ditetapkan manajemen.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, pada 27 Februari 2026 perseroan telah merealisasikan pengiriman emas perdana kepada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), yang berarti EMAS akan mulai mencatatkan penjualan pertama pada kuartal I/2026.
Pada tahun ini, EMAS menargetkan produksi emas sebesar 100.000–115.000 ons seiring dengan dengan beroperasinya Tambang Emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Pembangunan proyek yang dimulai pada 2022 hingga produksi emas perdana pada Februari 2026 telah memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan operasional perseroan ke depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Rio Sandy Pradana
