PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) membidik kenaikan volume produksi emas pada 2026 setelah meraih pendapatan tidak diaudit sebesar US$1,89 miliar atau sekitar Rp31,70 triliun tahun lalu.
Presiden Direktur MDKA Albert Saputro menyampaikan bahwa pada 2025 perseroan berfokus pada penguatan disiplin operasional serta penyelesaian sejumlah agenda strategis. Pada kuartal IV/2025, perseroan memprioritaskan stabilitas portofolio sekaligus persiapan ekspansi untuk tahun berikutnya.
“Dengan Tambang Emas Pani yang semakin dekat dengan produksi perdana, kinerja berkelanjutan di Tambang Tujuh Bukit, serta peningkatan skala bisnis nikel, Merdeka berada pada posisi kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya,” ujar Albert dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).
Lini bisnis emas menjadi kontributor utama melalui Tambang Emas Tujuh Bukit memproduksi 103.156 ounces emas sepanjang 2025. Dari sisi penjualan, MDKA melepas 104.168 ounces emas dengan harga jual rata-rata US$3.138 per ons, melesat 32% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year/YoY).
Sementara itu, proyek Tambang Emas Pani yang dikelola PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) telah menyelesaikan serangkaian tahap commissioning pada akhir 2025. Proyek ini dijadwalkan memulai produksi emas perdana pada kuartal I/2026, yang diprediksi menjadi motor pertumbuhan baru bagi grup.
Di sektor nikel, melalui anak usahanya PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) mencatatkan pertumbuhan produksi saprolit sebesar 42% YoY menjadi 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit meningkat sebesar 45% secara tahunan menjadi 14,7 juta wmt.
Adapun pada lini tembaga, Tambang Wetar tercatat memproduksi 10.454 ton tembaga sepanjang 2025. Perseroan juga terus mematangkan studi kelayakan Proyek Tembaga Tujuh Bukit yang diproyeksikan sebagai salah satu tambang tembaga-emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan.
Seiring kinerja operasional di seluruh lini usaha, Merdeka meraih pendapatan tidak diaudit sebesar US$1,89 miliar. Hal itu mencerminkan kontribusi emas, yang sebagian mengimbangi pelemahan pendapatan nikel dan tembaga.
Memasuki 2026, Grup Merdeka membidik kenaikan volume produksi emas mencapai 180.000 hingga 205.000 ounces. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari capaian tahun lalu, seiring dengan kontribusi penuh dari Tambang Pani.
Untuk bisnis nikel, MBMA menargetkan produksi saprolit 8,0 juta–10,0 juta wmt dan limonit 20,0 juta–25,0 juta wmt. Seluruh target ini masih menunggu persetujuan resmi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari otoritas terkait.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ana Noviani
