Minggu Lalu Turun, Begini Ramalan Harga Batu Bara Pekan Ini

Harga batu bara melejit pada perdagangan akhir pekan lalu. Namun dalam sepekan, harga si batu hitam masih tertekan.

Pada Jumat (27/3/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 143,85/ton. Melambung 1,3% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam seminggu terakhir.

Harga batu bara pun genap naik dua hari beruntun. Dalam dua hari tersebut, harga terangkat 4,58%.

Meski demikian, harga batu bara tetap terkoreksi secara mingguan. Sepanjang perdagangan pekan lalu, harga komoditas ini terpangkas 1,81% secara point-to-point.

Namun harga batu bara mengalami lonjakan signifikan sejak perang di Timur Tengah meletus pada akhir Februari lalu. Dalam sebulan terakhir, harga terdongkrak 11,77%.

Tidak hanya minyak, perang juga membuat harga gas alam melonjak. Harga gas alam TTF (Belanda) meroket 22,52% dalam sebulan terakhir.

Sata harga gas makin mahal, mau tidak mau batu bara kembali dilirik, terutama untuk pembangkit listrik. Bloomberg News mengabarkan, Jepang akan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik bertenaga batu bara.

Di Eropa pun demikian. Jika harga gas terus membumbung tinggi, maka Belanda, Polandia, dan Republik Ceska akan kembali menggunakan batu bara.

“Kita sedang melihat tekanan dari sisi pasokan. Jika Anda berada di Asia, maka sangat mungkin Anda akan mengubah strategi jangka panjang yaitu dengan bergantung kepada batu bara untuk waktu yang lebih lama sembari membangun kapasitas energi batu-terbarukan untuk menggantikan gas alam,” jelas Samantra Dart. Global Co-Head of Commodities Research di Goldman Sachs Group Inc.

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana perkiraan harga batu bara untuk pekan ini? Apakah bnisa naik lagi atau justru kembali terkoreksi?

Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara masih mantap di zona bullish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 83.

RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun kalau sudah di atas 70, maka artinya tergolong jenuh beli (oversold).

Sinyal oversold terkonfirmasi dengan indikator Stochastic RSI 14 hari yang sudah menyentuh 100. Paling tinggi, rasanya memang sudah jenuh beli.

Untuk perdagangan minggu ini, harga batu bara sepertinya berisiko turun. Cermati pivot point di US$ 134/tron.

Dari situ, harga batu bara bisa saja mengetes support US$ 131/ton yang menjadi Moving Average (MA) 5. Target berikutnya ada di rentang US$ 126-122/ton.

Sedangkan kalau bisa naik, maka harga komoditas ini berpotensi menguji resisten US$ 145/ton. Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 155/ton. (aji)

Sumber:

– 30/03/2026

Temukan Informasi Terkini

Dongkrak Kinerja, BUMA Internasional (DOID) Andalkan Diversifikasi dan Kontrak Baru

baca selengkapnya

EMAS Rombak Direksi dan Komut, Gaspol Produksi hingga Ekspansi

baca selengkapnya

Pemerintah Batalkan Pungutan Ekspor Batu Bara, Siapkan Pajak untuk NPI

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top