RENCANA PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melepas (spin off) 99,99% saham PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) – unit usaha tambang batu bara termal – dengan nilai US$ 2,45-2,63 miliar dapat mengubah citra perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia tersebut.
“Namun, apakah langkah tersebut sebuah lompatan besar menuju model bisnis yang lebih hijau atau sekadar permainan strategi untuk memperbaiki citra perusahaan?” kata Managing Director Energy Shift Institute, Christina Ng dalam keterangannya, yang dikutip pada Minggu (22/9/2024).
Menurut dia, keputusan Adaro yang akhirnya melepas (spin off) bisnis batu bara termal menjadi titik penting dalam lanskap energi Indonesia, mengirim sinyal kuat ke pasar domestik maupun internasional. Untuk perusahaan yang meraup laba dari batu bara, langkah ini menunjukkan bahwa pemain batu bara paling mapan Indonesia pun juga merasakan tekanan transisi energi global.
“Meskipun penjualan saham tersebut dikemas sebagai upaya menyelaraskan dengan tren global, langkah Adaro ini akan menghadapi pengawasan ketat, terutama karena pelepasan kepemilikan dilakukan melalui penawaran publik,” jelas Christina.
Langkah tersebut menjadi peluang bagi Adaro untuk membuktikan komitmennya menuju bisnis yang lebih berkelanjutan dan menunjukkan kepemimpinan dalam divestasi yang bertanggung jawab. “Bagaimana Adaro menjalankan penjualan saham ini akan menentukan narasi keberlanjutan perusahaan ke depannya,” tutur dia.
Selama ini, perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil berada dalam pengawasan ketat atas klaim ‘hijau’ mereka. Sebagai pengekspor batu bara termal terbesar di dunia, Indonesia – termasuk Adaro – berada di bawah sorotan dunia.
Aksi spin off bisnis batu bara termal emiten berkode saham ADRO itu disinyalir untuk menarik basis investor baru, yakni investor yang fokus pada aspek keberlanjutan dan nilai jangka panjang masa depan rendah karbon.
Investor-investor tersebut tidak sekadar menginginkan aksi pelepasan operasi batu bara, yang cenderung dilihat sebagai gerakan simbolis dan pengabaian tanggung jawab. Para investor menginginkan komitmen terhadap keberlanjutan yang sesungguhnya. “Ini akan menjadi tantangan bagi Adaro,” ucap Christina.
Penawaran publik bakal membuka peluang bagi berbagai jenis pemegang saham, yang menambah kompleksitas pelepasan saham Adaro. Jika pembeli tidak berkomitmen mengurangi emisi, hal itu akan berdampak pada Adaro atau ADRO.
Sebagai contoh, dampak negatif pernah dirasakan raksasa tambang Australia, Rio Tinto dan BHP, lantaran pelepasan bisnis batu bara tidak menghasilkan pengurangan produksi batu bara, melainkan hanya mengalihkan beban emisi karbon ke perusahaan lain.
Meski tidak dapat secara langsung mengendalikan siapa pembeli saham dalam penawaran publik, ADRO dapat memengaruhi prosesnya. ADRO dapat membidik dan menarik minat investor dan institusi pendanaan yang memiliki komitmen ESG dan transisi energi sebagai pembeli potensial.
Adapun risiko terbesar yang dihadapi ADRO adalah greenwashing, yakni menjual aset batu bara tapi menutup mata bagaimana aset tersebut akan dikelola. Jika pemilik baru lebih memprioritaskan laba daripada tanggung jawab iklim, profil keberlanjutan ADRO akan terdampak.
“Penjualan aset batu bara hanyalah langkah awal. Hal yang paling penting adalah langkah Adaro selanjutnya,” ujar Christina.
Sebagai raksasa batu bara yang telah mendiversifikasi bisnisnya, langkah ADRO terhadap bisnis-bisnis lain terkait batu bara, termasuk PLTU, dan bagaimana modal yang diperoleh akan diinvestasikan kembali, akan diawasi secara ketat oleh investor.
Jika modal tersebut dikucurkan untuk proyek energi terbarukan, penyimpanan energi, atau mineral kritis seperti nikel dan aluminium yang sesuai standar keberlanjutan internasional, hal itu akan memperkuat pergeseran bisnis ADRO dari batu bara.
“Penjualan saham ini bukan hanya transaksi finansial, tapi juga ujian penentu bagi komitmen keberlanjutan Adaro,” pungkasnya.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Adaro Energy (ADRO) diperkirakan bakal kehilangan laba yang besar setelah melepas Adaro Andalan Indonesia (AAI). Namun, aksi tersebut sejalan dengan rencana strategis ADRO untuk berekspansi ke bisnis non batu bara.
Berdasarkan perhitungan DBS, AAI bakal menyumbang laba bersih US$ 800 juta ke ADRO pada tahun ini atau setara 80% dari total estimasi US$ 1,1 miliar. Itu berarti, ADRO akan kehilangan laba sebesar itu setelah melepas AAI.
DBS menilai, valuasi AAI senilai US$ 2,5 miliar sudah sesuai, yakni setara PER 3 kali. Apalagi, AAI merupakan perusahaan batu bara termal yang menguntungkan dan berada di posisi kedua nasional setelah PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Dalam pandangan DBS, penjualan seluruh saham AAI adalah langkah maju dalam transformasi ADRO menjadi perusahaan induk energi terintegrasi, bukan sebatas tambang batu bara. Itu akan mengurangi eksposur ADRO ke bisnis batu bara termal.
“Imbasnya, akses pendanaan ADRO akan lebih terbuka. Investor juga bakal mendukung ADRO menggarap proyek energi baru terbarukan,” tulis DBS dalam catatannya.
Sejauh ini, detail transaksi AAI belum jelas. Namun, pemegang saham ADRO tampaknya memang berniat melepas nilai dari bisnis batu bara.
Dengan berbagai pertimbangan, DBS mempertahankan rekomendasi buy saham ADRO dengan target harga Rp 4.000. Broker asing tersebut menilai, transaksi ini menjadi strategi pivot ADRO dari industri batu bara. Editor: Jauhari Mahardhika
Sumber: investor.id, 22 September 2024