Moody’s Pertahankan Peringkat Utang Freeport Indonesia di Baa3

Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings mempertahankan rating utang PT Freeport Indonesia (PTFI) di level Baa3 dengan prospek stabil, meskipun gangguan operasional tambang Grasberg menekan volume produksi perusahaan sepanjang 2026.

Dalam keterangan yang dirilis pada Kamis (15/10/2026), Moody’s menegaskan peringkat Baa3 untuk peringkat penerbit dan obligasi senior tanpa jaminan Freeport Indonesia.

Wakil Presiden Moody’s Ratings Rachel Chua mengatakan, harga tembaga dan emas yang mendukung akan membantu meredam dampak penurunan produksi Freeport sepanjang 2026. Produksi diperkirakan kembali meningkat pada 2027 seiring dengan peningkatan kapasitas operasional tambang.

“Metrik kredit PTFI akan tetap kuat, dengan rasio utang terhadap EBITDA sedikit di bawah 1,0 kali selama 12 hingga 18 bulan ke depan, seiring dengan berlanjutnya pemulihan operasi di tambang Grasberg,” ujar Chua dalam keterangan tersebut.

Gangguan operasional menjadi salah satu faktor utama yang membayangi kinerja Freeport. Pada September 2025, insiden longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC) menyebabkan penghentian operasional tambang bawah tanah dan memperlihatkan tingginya ketergantungan arus kas perusahaan pada satu aset pertambangan yang kompleks secara teknis.

Freeport telah kembali berproduksi di tambang Deep Mill Level Zone dan Big Gossan yang tidak terdampak insiden. Perusahaan juga menyelesaikan perbaikan pada bagian GBC yang terdampak pada kuartal I/2026 dan mulai mengaktifkan kembali Blok Produksi 2 dan 3 secara bertahap sejak Maret 2026.

Perusahaan menargetkan kapasitas produksi mencapai sekitar 65% pada semester II/2026 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027. Sementara itu, Blok Produksi 1S masih dalam tahap perbaikan dan diperkirakan kembali beroperasi pada pertengahan 2027.

Di tengah pemulihan produksi tersebut, kenaikan harga komoditas menjadi bantalan bagi pendapatan dan arus kas perusahaan. Moody’s mencatat harga emas rata-rata mencapai US$4.600 per troy ounce hingga Oktober 2026, sedangkan harga tembaga rata-rata berada di level US$6,20 per pound sepanjang tahun berjalan.

Kondisi tersebut membantu Freeport menjaga kemampuan menghasilkan laba dan arus kas meskipun volume produksi pada 2026 lebih rendah.

Likuiditas Kuat

Moody’s juga menilai posisi likuiditas Freeport sangat kuat hingga 2027. Per 30 Juni 2026, perusahaan memiliki kas dan setara kas sebesar US$381 juta.

Freeport diperkirakan menghasilkan arus kas operasional sekitar US$6 miliar hingga Desember 2027. Dengan tambahan akses terhadap fasilitas kredit berkomitmen yang belum ditarik sebesar US$4 miliar, perusahaan dinilai memiliki sumber pendanaan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pembayaran utang, belanja modal, dan dividen senilai US$6,8 miliar hingga 2027.

Prospek stabil mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa Freeport dapat memulihkan produksi secara bertahap sesuai rencana pertambangan, menjaga biaya tetap rendah, dan mempertahankan profitabilitas yang kuat. Perusahaan juga diperkirakan mengelola belanja modal dan pembagian dividen secara hati-hati sembari mempertahankan likuiditas yang memadai.

Selain kondisi operasional dan keuangan, Moody’s menyoroti risiko regulasi pertambangan di Indonesia yang meningkat, termasuk pengumuman kenaikan tarif royalti sejumlah logam, seperti tembaga dan emas.

Namun, Moody’s tidak memperkirakan kebijakan tersebut akan memengaruhi Freeport Indonesia. Izin pertambangan perusahaan memberikan kepastian ketentuan fiskal, termasuk tarif royalti tembaga sebesar 4% dan emas sebesar 3,75% hingga 2041.

Kepastian operasional jangka panjang juga menjadi faktor yang mendukung penilaian kredit perusahaan. Pada tahun ini, pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepahaman bersama Freeport-McMoRan Inc. dan Freeport Indonesia untuk memperpanjang izin operasi Grasberg setelah 2041 selama sumber daya yang dapat ditambang secara ekonomis masih tersedia.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Freeport-McMoRan akan melepas tambahan 12% kepemilikannya kepada pemerintah Indonesia pada 2041. Dengan demikian, kepemilikan perusahaan tersebut di Freeport Indonesia akan turun menjadi sekitar 37% mulai 2042.

“Kesepakatan ini positif bagi peringkat kredit karena mendukung keberlanjutan operasi Freeport di salah satu deposit tembaga dan emas terbesar di dunia. Hal ini juga mempertahankan struktur tata kelola dan operasional yang berlaku berdasarkan izin pertambangan perusahaan,” jelasnya.

Peringkat Baa3 Freeport Indonesia turut ditopang rekam jejak operasional di kawasan mineral Grasberg, umur cadangan tambang yang panjang, biaya produksi yang rendah berkat kandungan emas yang signifikan dalam konsentrat tembaga, serta margin EBITDA yang kuat dan kebijakan keuangan yang hati-hati.

Meski demikian, Moody’s tetap memperhitungkan keterbatasan diversifikasi operasional, komoditas, dan geografis Freeport dibandingkan perusahaan pertambangan lain dengan peringkat serupa. Editor : Denis Riantiza Meilanova

Sumber:

– 15/10/2026

Temukan Informasi Terkini

PTRO Bakal Rights Issue 170 Juta Saham, Dana untuk Apa?

baca selengkapnya

Indo Tambangraya (ITMG) Dirikan Anak Usaha Baru di Bisnis Mineral

baca selengkapnya

Bisnis Hilirisasi Antam (ANTM) Melesat, Ini Buktinya

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top