Nikel Cs Menang Banyak, Harga Diramal Naik 40% Akibat La Niña

ANALIS energi dari Asosiasi Pengamat Energi Indonesia (APEI) Ali Ahmudi Achyak memproyeksikan fenomena La Niña bisa menyebabkan penurunan produksi dan kenaikan harga komoditas tambang, seperti nikel, dalam kisaran 20% hingga 40% dari kondisi normal.

Namun, kondisi penurunan produksi dan kenaikan harga nikel tersebut bergantung pada intensitas dan durasi La Niña. Jika intensitas tinggi dan waktunya lama, kata Ali, pastinya berdampak besar, demikian juga sebaliknya. 

“Jika berkaca pada beberapa peristiwa La Niña yang pernah ada, maka dampak terhadap penurunan produksi dan kenaikan harga bisa pada range 20℅-40℅ dari kondisi normal,” ujar Ali kepada Bloomberg Technoz, dikutip Minggu (22/9/2024).

Nikel ditutup menguat 1,08% menjadi US$16.510/ton di London Metal Exchange (LME) pada Jumat, sedangkan tembaga melemah 0,40% menjadi US$9.476,50/ton.

Ali menggarisbawahi fenomena alam La Niña yang biasanya diikuti oleh munculnya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, badai, dan lain-lain. Nantinya, hal tersebut akan sangat memengaruhi produksi sektor pertambangan, termasuk tembaga, nikel, dan lain-lain, karena munculnya gangguan di lokasi tambang.

Selain itu, Ali mengatakan bencana alam juga bisa mengganggu logistik sehingga terjadi peningkatan biaya yang berdampak pada kenaikan harga komoditas tambang, termasuk tembaga dan nikel. 

Sebelumnya, nikel sempat diramal bearish sebagai imbas kelebihan pasok dari Indonesia. BMI —lengan riset dari Fitch Solutions Company— memproyeksikan rerata harga nikel untuk tahun ini akan bertengger di US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton.

Nikel terpelanting sepanjang 2023, dengan harga rata-rata tahun lalu turun 15,3% menjadi US$21.688/ton dari US$25.618/ton pada 2022. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

Akan tetapi, operasi pertambangan di Indonesia dan Australia diramal mengalami gangguan terparah, jika fenomena cuaca La Niña yang diiringi banjir dan hujan lebat terjadi pada akhir tahun ini.

Berdasarkan data pembaruan Juli 2024 dari Pusat Prediksi Iklim AS (CPC), La Niña diperkirakan berkembang selama Agustus-Oktober 2024 dengan probabilitas sebesar 70% dan dapat bertahan hingga akhir 2024-awal 2025, dengan prakiraan yang menunjukkan peluang kelanjutan sebesar 79% hingga November-Januari.

“Gangguan cuaca yang terkait dengan La Niña kemungkinan akan menimbulkan risiko penurunan prospek pertambangan regional serta menimbulkan volatilitas di seluruh pasar logam,” papar tim peneliti BMI —lengan riset Fitch Solutions— dalam laporannya, dikutip Senin (12/8/2024). (dov/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 22 September 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top