Nikel Makin Kehilangan Taji, Harga Terjungkal ke US$16.457/Ton

Jakarta – Kalangan ahli pertambangan menilai penurunan harga nikel yang diperdagangkan di London Metal Exchange (LME) hingga ke level US$16.457/ton terjadi karena adanya penurunan permintaan dari China.

Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan penurunan permintaan China berkaitan dengan perekonomian Negeri Panda yang belum pulih.

Sekadar catatan, produk domestik bruto (PDB) China hanya tumbuh 4,7% pada kuartal II-2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, atau merupakan laju terburuk dalam lima kuartal.

Kendati demikian, Indonesia juga turut memberikan andil dalam penurunan harga nikel tersebut.

Terlebih, kata Rizal, produksi nikel dari Indonesia sudah mencapai di atas 1,7 juta ton pada 2023 dan diperkirakan meningkat lagi pada 2024 dan tahun selanjutnya karena beberapa smelter sudah masuk ke tahap produksi komersial dan berpotensi menambah pasokan nikel ke pasar global.

“Penurunan harga ini lebih disebabkan oleh permintaan dari China saat ini yang menurun sehingga terjadi oversupply,” ujar Rizal kepada Bloomberg Technoz, Kamis (18/7/2024).

Selain itu, Rizal mengatakan ketegangan geopolitik global, seperti perang Rusia dan Ukraina, juga memberikan pengaruh terhadap penurunan permintaan.

Sekadar catatan, harga nikel yang berada pada level US$16.457/ton pada penutupan perdagangan di LME pada Rabu (18/7/2024), drop 0,83% dari hari sebelumnya dan mulai mendekati level terendah pada tahun ini, yakni US$15.921/ton pada Februari.

Adapun, level harga tersebut berada di bawah proyeksi yang disampaikan BMI –lengan riset dari Fitch Solutions Company – yang memproyeksikan harga berada pada level US$18.000/ton.

Hal tersebut terjadi karena adanya proyeksi peningkatan pasokan yang signifikan pada 2024, seperti yang terjadi pada 2023, didorong oleh peningkatan produksi di Indonesia dan China daratan yang menjadi pendorong utama penurunan harga.

“Kami memperkirakan dinamika serupa akan membatasi pertumbuhan harga pada 2024 karena produksi di produsen utama China daratan dan Indonesia melonjak,” tulis BMI dalam laporan terbaru, dikutip Jumat (5/7/2024).

(dov/wdh)

 

Sumber : Bloombergtechnoz.com, 18 Juli 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top