MENJELANG penutupan tahun ini, harga nikel menguat tipis 0,68% menjadi US$15.415 per ton pada penutupan 30 Desember 2024 di London Metal Exchange (LME).
Kendati demikian, harga nikel masih berada di angka US$15.000-an, atau jauh dari harga rerata harga sepanjang 2023 berada di angka US$21.688/ton atau terpelanting 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton.
Pengamat komoditas dan pendiri Traderindo. com Wahyu Tribowo Laksono menjelaskan, sejak 19 November, harga nikel konsisten konsolidatif di rentang harga US$15.660—US$16.300. Angka ini jauh dari potensi harga wajar yang diproyeksikan sekitar US$18.000.
“Jadi penguatan atau pelemahan yang terjadi sangat wajar dan tidak ada faktor signifikan sebagai pemicunya. Akhir tahun yang sangat senyap dengan low volatility. Akan tetapi, tetap tertekan karena sepanjang 2024 harga nikel anjlok,” kata Wahyu saat dihubungi, Selasa (31/12/2024).
Nickel price curve in December 2024./doc. LME
Sentimen Trump
Di sisi lain, Wahyu menyebut sentimen negatif teranyar terhadap harga nikel dipicu oleh terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Tidak seperti calon dari Partai Demokrat yang pro energi hijau, Trump lebih konservatif, bukan idealis. Bahkan, pada era presidensial sebelumnya, Trump keluar dari Perjanjian Paris.
“Donald Trump bakal membatalkan mandatori kendaraan listrik [nikel komponen utama baterai kendaraan listrik] pemerintahan Joe Biden. Kebijakan Trump lebih pro energi fosil dan kurang mendukung transisi energi hijau,” tutur dia.
Menurut Wahyu, kebijakan Trump berpotensi memberikan sentimen negatif dan memicu penurunan permintaan kendaraan listrik, yang pada akhirnya bisa menekan permintaan nikel dari Indonesia.
“Ujungnya permintaan lemah bisa mengurangi ekspor nikel Indonesia ke AS,” ucapnya.
Faktor China
Sementara itu, Vice President, Head of Marketing, Strategy and Planning PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi berpandangan penguatan harga nikel pada pengujung tahun ini lebih didorong oleh sentimen harga murah, yang sempat US$15.089/ton pada 19 Desember. Walhasil, hal tersebut mendorong permintaan kontrak.
Faktor lainnya adalah stabilitas ekonomi makro, khususnya dari China, dengan rilis manufaktur Desember yang masih berada di zona ekspansif selama tiga bulan beruntun.
“Meski demikian, kami melihat kondisi yang oversupply yang mulai menurun pada 2024 sebesar 174 kiloton [kt] berdasarkan data INSG. Terjadi kenaikan produksi dari Indonesia menjadi 1.570 metrik ton [mt] dan China menjadi 1.065 mt, sehingga hal ini berpotensi membatasi kenaikan harga nikel,” terangnya.
Dia memperkirakan permintaan China pada 2025 meningkat sebesar 4,9%, ditopang oleh perbaikan industri ship to ship (STS) seiring dengan permintaan baterai yang meningkat. Hal tersebut diyakini dapat mendorong perbaikan harga, mengingat 63,5% konsumsi nikel global didominasi oleh China.
Selain nikel, logam dasar andalan RI lainnya juga ditutup menguat adalah timah yang naik tipis sebesar 1,68% menjadi US$29.295 per ton dibandingkan dengan penutupan Jumat.
Sementara itu, sisanya seperti tembaga turun 0,8% menjadi US$8.910 per ton. Aluminium juga turun 0,27% menjadi US$2.551 per ton. Seng turun 0,41% menjadi US$3.019 per ton, dan timbal turun 1,12% menjadi US$1.947 per ton. (mfd/wdh)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 31 Desember 2024
