Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat nilai ekspor komoditas mineral dan batu bara (minerba) meningkat selama periode Januari hingga Agustus 2026.
Kementerian ESDM mengeklaim, kenaikan nilai ekspor itu menunjukan tren positif dan bukti nyata keberhasilan hilirisasi.
“Pengendalian pasokan membantu menjaga keseimbangan antara volume dan harga komoditas. Hasilnya, meski volume ekspor menurun, kenaikan harga mampu mendorong nilai ekspor tetap tumbuh,” tulis Kementerian ESDM melalui akun Instagram esmi Ditjen Mineraba @ditjenminerba dikutip Minggu (18/10/2026).
Kementerian ESDM juga menyebut bahwa melalui hilirisasi, Indonesia terus mendorong optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batu bara, memperkuat daya saing produk nasional, serta meningkatkan nilai ekonomi bagi bangsa.
“Hilirisasi bukan sekadar mengolah sumber daya, tetapi juga menciptakan nilai tambah untuk Indonesia!” katanya.
Perinciannya, nilai ekspor nikel dan produk turunannya mencapai US$25,9 miliar atau setara Rp467,55 triliun (asumsi kurs Rp18.052 per US$) sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka itu naik 17,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Namun, volume ekspor komoditas tersebut turun 3,8% menjadi 1.571 kiloton pada Januari hingga Agustus 2026. Adapun ekspor komoditas nikel itu mencakup Nickel pig iron (NPI), Feronikel (FeNi), stainless steel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulphate, dan nickel metal.
Selanjutnya, nilai ekspor batu bara naik 7,8% menjadi US$20,8 miliar atau setara Rp375,49 triliun sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Adapun, volume ekspor emas hitam itu turun 7% menjadi 307.051 kiloton. Ekspor batu bara itu berupa sub-bituminous, lignite, bituminous, dan anthracite.
Berikutnya, nilai ekspor bauksit naik 43,5% menjadi US$3,8 miliar atau setara Rp68,5 triliun sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Senada, volume ekspor komoditas mineral itu juga naik 25,5% menjadi 4.680 kiloton. Adapun, ekspor bauksit itu berupa alumina (HS 2818) dan aluminium (HS 7601).
Kemudian, nilai ekspor tembaga (katoda) mencapai US$2,2 miliar atau setara Rp39,7 triliun sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka itu naik 47,2% secara yoy.
Sementara itu, volume ekspor tembaga naik 3,5% menjadi 164 kiloton. Ekspor katoda dan hasil olahan tembaga lainnya kini berkontribusi sebesar 70% dari total tembaga. Angka itu meningkat 130% dari tahun sebelumnya. Editor : Fitri Sartina Dewi
