Grup Merdeka dihadapkan oleh ironi ekspansi besar-besaran di sisi penghiliran mineral dengan volatilitas harga dan kebutuhan pendanaan tinggi tahun ini. Namun demikian, perseroan melihat ada potensi titik balik yang dapat mengerek kinerja tahun ini.
Adapun, performa Grup Merdeka sepanjang 2025 tampil tertekan di tengah upaya ekspansi. Tahun lalu, perseroan dapat meningkatkan produksi dan memperkuat fondasi jangka panjang.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mencatatkan pembengkakan rugi bersih yang diatribusikan kepada entitas induk menjadi US$62,06 juta, naik dari US$55,76 juta pada 2024.
Sementara itu, pendapatan perseroan juga mengalami koreksi sebesar 15,4% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$1,89 miliar sepanjang 2025.
Sebaliknya, anak usaha perseroan yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 29,77% menjadi US$29,56 juta pada 2025, meskipun pendapatannya turun 22,23% YoY ke US$1,43 miliar.
Kendati kinerja tertekan, manajemen MDKA meyakini adanya titik balik pada tahun ini. Pasalnya, dua tulang punggung pertumbuhan grup yakni Tambang Emas Pani dan proyek HPAL mulai memasuki fase produksi massal.
Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro, memberikan sinyal kuat bahwa operasional Tambang Emas Pani yang dimulai sejak 14 Februari 2026 akan menjadi pendorong utama pemulihan arus kas grup. Proyek tersebut ditargetkan memproduksi 100.000-115.000 ounce emas pada 2026.
“Dengan kemajuan di seluruh proyek kami dan kontribusi yang semakin kuat dari entitas anak usaha, kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Di sektor nikel, MBMA diketahui tengah memacu efisiensi melalui integrasi vertikal. Proyeksi produksi bijih saprolit ditargetkan naik menjadi 8 juta-10 juta wmt, sementara limonit melonjak ke kisaran 20 juta-25 juta wmt.
Adapun target besar MBMA pada tahun ini adalah mencapai swasembada bijih saprolit 100% untuk memasok ketiga pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) miliknya guna mempertebal margin keuntungan perseroan.
Selain itu, ada juga commissioning lini produksi pertama proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) Sulawesi Nickel Cobalt pada semester II/2026. Proyek berkapasitas 90.000 ton nikel per tahun ini disebut akan memperkuat posisi MBMA dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik global.
Direktur Utama MBMA, Teddy Oetomo, menambahkan bahwa perseroan akan tetap menjaga kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global.
“Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang perseroan,” ucap Teddy.
Dengan dimulainya monetisasi proyek emas dan efisiensi di lini nikel, Grup Merdeka optimistis dapat memulihkan kondisi rugi bersih MDKA menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan mulai tahun fiskal 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Dwi Nicken Tari
