Outlook Batu Bara 2026: Kian Menantang, Banyak Penyesuaian Aturan

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memproyeksikann permintaan batu bara dari China dan India pada 2026 akan tumbuh secara moderat sekitar 0,2% hingga 1%.

Outlook pasar komoditas emas hitam pada tahun ini juga disebut akan lebih menantang, seiring dengan berbagai penyesuaian regulasi yang berlaku sejak awal 2026.

Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan penyesuaian outlook permintaan batu bara termal dari China dan India diperkirakan terjadi secara terbatas dan tidak berdampak signifikan terhadap dinamika pasar global.

Untuk China, kata dia, permintaan impor batu bara termal pada 2026 diproyeksikan mengalami penyesuaian moderat sekitar 0,2%-0,3% dibandingkan dengan 2025, sejalan dengan transformasi bauran energi serta dinamika pasokan domestik.

Dalam konteks tersebut, Indonesia tetap mempertahankan posisi strategis, dengan kontribusi sekitar 55% terhadap total impor batu bara China per November 2025.

Sementara itu, permintaan impor batu bara dari India secara global diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 1% pada 2026.

Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan kebutuhan listrik, meskipun realisasinya tetap dipengaruhi oleh pengelolaan stok domestik.

Gita menjelaskan hingga November 2025, Indonesia menyumbang sekitar 51% dari total impor batu bara India. Kondisi tersebut menegaskan peran dominan Indonesia sebagai mitra pasokan utama.

Adapun, untuk pasar Asia Tenggara, peluang impor tetap ada namun relatif terbatas karena sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing negara.

Dia menyontohkan permintaan batu bara dari Malaysia masih mencatat kenaikan. Sementara itu, pembelian oleh Vietnam cenderung stagnan.

“Di pasar Jepang, Korea, dan Taiwan, permintaan relatif stabil dengan kecenderungan selektif pada spesifikasi tertentu,” ujarnya.

Menantang 

Memasuki 2026, lanjut Gita, outlook pasar batu bara akan lebih menantang. Dia menjelaskan para pelaku usaha menghadapi kombinasi penyesuaian regulasi termasuk rencana bea ekspor dan kebijakan retensi devisa hasil ekspor (DHE) di tengah kenaikan biaya produksi batu bara.

Di sisi lain, sejumlah pelaku usaha hingga saat ini juga masih menunggu kepastian volume produksi yang disetujui oleh pemerintah.

Dalam kaitan itu, para pelaku usaha akan lebih berhati-hati dengan fokus pada efisiensi, pengamanan kontrak jangka menengah, serta diversifikasi pasar yang realistis sesuai permintaan aktual.

Harga batu bara menutup perdagangan 2025 di jalur hijau. Namun, sepanjang tahun lalu, harga si batu hitam ambrol.

Pada Rabu (31/12/2025), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 107,5/ton. Menguat 0,8% dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Harga batu bara bangkit usai terkoreksi dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terpangkas 2,2%. Sepanjang 2025, harga komoditas ini melorot 14,17%.

Seiring kesadaran akan kelestarian lingkungan yang makin tinggi, batu bara kurang mendapat tempat. International Energy Agency (IEA) melaporkan, permintaan batu bara global pada 2025 diperkirakan naik 0,5% ke 8,85 miliar ton. Ini memang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Akan tetapi, ke depan permintaan akan melandai dan memuncak pada 2030. Ekspansi penggunaan energi baru-terbarukan kian menggusur peran batu bara. (mfd/wdh)

Sumber:

– 03/01/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Selasa, 06 Januari 2026

baca selengkapnya

ESDM Jelaskan Alasan Relaksasi RKAB 2026, Produksi Tambang Dibatasi 25% hingga Maret

baca selengkapnya

Purbaya Kode BK Batu Bara Berlaku Surut, Segera Terbit

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top