Pabrik Semen Kekurangan Pasokan Batu Bara, ESDM Cari Alternatif

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui pasokan batu bara untuk industri semen susut. Pemerintah pun mencari sumber pasokan alternatif untuk menutup kekurangan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, penyebab kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tak lepas dari gangguan jalur logistik.

Dia menjelaskan, saat ini, kondisi sungai-sungai yang menjadi jalur logistik batu bara surut seiring dengan fenomena kemarau panjang dan El Nino.

Menurut Tri, kondisi itu menghambat proses pengiriman batu bara sehingga pasokan yang diterima sejumlah perusahaan semen ikut terdampak.

“Yang semen itu ada berapa memang laporan terkait dengan pasokan [batu bara] yang kurang. Yang beberapa karena sungai surut,” kata Tri di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026).

Namun, pemerintah tak bergeming. Tri mengatakan, pihaknya bakal mencari pasokan alternatif untuk menutupi kekurangan emas hitam bagi industri semen.

“Tapi kami di [Ditjen] Minerba berupaya untuk mengalihkan atau mencari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved [terselesaikan] minggu ini atau minggu depan,” tutur Tri.

Namun demikian, Tri tak memerinci berapa kekurangan pasokan batu bara untuk industri semen tersebut.

Adapun, batu bara di industri semen berfungsi utama sebagai bahan bakar pembakaran (termal) berkapasitas tinggi untuk memanaskan bahan baku di dalam rotary kiln (tanur putar).

Kemarau memang membuat beberapa sungai di Tanah Air mengering. Salah satunya, sungai di Kalimantan Selatan. Hal ini membuat kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara tidak dapat berlayar.

Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) sebelumnya meminta pemerintah memperkuat ketahanan infrastruktur dan rantai pasok energi nasional untuk mengantisipasi gangguan akibat bencana alam, cuaca ekstrem, dan perubahan iklim.

Menurut Aspebindo, risiko gangguan terhadap pasokan energi tidak hanya berasal dari gempa bumi, erupsi gunung api, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga perubahan kondisi hidrologis, cuaca ekstrem, serta perubahan pola musim.

Ketua Umum Aspebindo Anggawira mengatakan, salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketergantungan rantai pasok energi terhadap infrastruktur tertentu. Dia mencontohkan, penurunan debit air sungai di Kalimantan Timur mulai membatasi pergerakan tongkang pengangkut batu bara.

Kondisi tersebut menunjukkan gangguan pada sisi logistik dapat terjadi meskipun kegiatan produksi di tambang masih berjalan normal.

“Tambang mungkin tetap dapat berproduksi, tetapi ketika tongkang tidak dapat berlayar karena sungai surut, jalan hauling terganggu akibat banjir atau longsor, atau aktivitas pelabuhan mengalami pembatasan akibat cuaca ekstrem, maka batu bara atau komoditas energi tersebut tidak dapat sampai kepada konsumen sesuai jadwal,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, pemerintah perlu melakukan pemetaan terhadap critical energy infrastructure dan titik-titik rawan dalam rantai pasok energi nasional. Editor : Denis Riantiza Meilanova

Sumber:

– 23/09/2026

Temukan Informasi Terkini

Surveyor Indonesia perkuat penjaminan independen sektor pertambangan

baca selengkapnya

Cermati Rekomendasi Saham Alamtri Minerals (ADMR) di Tengah Kinerja Positif

baca selengkapnya

Digitalisasi Dan AI Topang Efisiensi dan Produktivitas Kinerja AMMAN

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top