Pasokan Kurang, Tambang Tembaga Butuh Investasi Baru Rp5.977 T

Bloomberg New Energy Finance (BNEF) memperkirakan tambang tembaga membutuhkan investasi baru sekitar US$332 miliar atau sekira Rp5.977 triliun untuk mencegah guncangan pasokan di masa depan.

Laporan yang dirilis pada Selasa (20/10/2026) menyebutkan bahwa tanpa belanja modal yang signifikan, pasar tembaga diproyeksikan akan mengalami kekurangan pasokan sebesar 20 juta metrik ton pada tahun 2050. Kondisi ini berisiko menciptakan kelangkaan parah yang akan menghambat transisi menuju elektrifikasi.

Para analis BNEF menyatakan pasar diperkirakan akan mengalami defisit mulai tahun 2028, seiring meningkatnya permintaan, sementara produsen kesulitan mengganti volume produksi yang terus menurun.

Transisi dari bahan bakar fosil menuju elektrifikasi—mencakup berbagai sektor, mulai dari kendaraan hingga pusat data—telah menjadikan tembaga sebagai logam dengan keterbatasan pasokan paling parah di antara logam-logam lain yang dibahas dalam laporan Transition Metals Outlook dari BloombergNEF.

Permintaan terkait dengan elektrifikasi diproyeksikan melonjak 89% menjadi 23,3 juta ton pada tahun 2050, yang menyumbang lebih dari separuh total konsumsi tembaga.

“Transportasi bertenaga listrik merupakan sektor dengan pertumbuhan permintaan tembaga paling cepat,” tulis para analis.

“Mobil, truk, dan bus listrik, yang adopsi penggunaannya akan melonjak tajam selama periode 2026–2050, membutuhkan tembaga untuk komponen motor, inverter, paket baterai, kabel tegangan tinggi, dan infrastruktur pengisian daya.”

Logam merah ini juga akan terus diminati untuk sektor konstruksi, produksi industri, dan produk konsumen, sementara kebutuhan tembaga untuk pusat data hanyalah “sebagian kecil dari total permintaan tembaga.”

Meski cadangan tembaga di bawah tanah mungkin masih mencukupi, pengembangan tambang baru maupun perluasan tambang yang sudah ada tidak beroperasi cukup cepat untuk mengimbangi penurunan produksi dari operasi yang ada saat ini.

Tanpa investasi tambahan, total pasokan bisa turun 14,5% menjadi 25,7 juta ton pada tahun 2050, dari 30 juta ton pada tahun 2026. Penurunan kadar bijih akan menaikkan biaya produksi, sementara upaya daur ulang tidak akan cukup untuk menutupi penurunan produksi primer.

Meski dana sebesar US$332 miliar yang dibutuhkan diinvestasikan dalam tambang-tambang baru, kesenjangan pasokan kemungkinan akan tetap ada setidaknya hingga tahun 2043, karena pengembangan tambang tembaga baru membutuhkan waktu rata-rata 17 tahun.

Menurut estimasi BNEF, Cili diperkirakan akan tetap menjadi produsen utama terbesar, meski produksinya diprediksi turun dari 5,8 juta ton pada tahun 2026 menjadi 4,8 juta ton pada tahun 2050.

Kendati demikian, pangsa pasokan tambang negara tersebut justru akan meningkat dari 24% menjadi 28%, seiring dengan penurunan produksi yang terjadi lebih cepat di wilayah lain. (bbn)

Sumber:

– 20/10/2026

Temukan Informasi Terkini

Timah (TINS) Raih Kredit DHE SDA Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

baca selengkapnya

IMA: Biaya Energi Jadi Tantangan Utama Industri Tambang

baca selengkapnya

Alamtri Resources (ADRO) Lanjutkan Program Buyback Saham Mulai 20 Oktober

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top