Peluang cuan dari investasi saham pertambangan emas kembali terbuka setelah harga saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terkoreksi tajam bersamaan dengan terpuruknya pasar modal Indonesia pada Rabu (4/3/2026).
Meski tertekan dalam jangka pendek, emiten tambang emas ini dinilai memiliki prospek kinerja yang menjanjikan karena telah memasuki tahap produksi emas secara komersial.
Pada perdagangan Rabu (4/3), harga saham EMAS ditutup di level Rp 8.100 atau turun 350 poin setara 4,14% dalam sehari. Bahkan dalam sesi perdagangan intraday, harga saham EMAS sempat tergelincir ke bawah level Rp 8.000.
Penurunan saham EMAS terjadi seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada hari yang sama, IHSG ditutup di level 7.577,06 setelah turun 362,70 poin atau 4,57%.
Analis: Koreksi Saham EMAS Jadi Peluang Akumulasi
Sejumlah analis menilai pelemahan harga saham EMAS justru membuka peluang bagi investor untuk mulai mengakumulasi saham tersebut.
Optimisme ini didorong oleh dimulainya fase produksi dan komersialisasi Tambang Emas Pani yang menjadi tulang punggung bisnis perusahaan.
Setelah melalui tahap penuangan emas perdana (first gold pour) pada 14 Februari 2026, EMAS juga telah melaksanakan pengiriman perdana (first shipment) sebanyak 44,04 kilogram dore untuk proses pemurnian di fasilitas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Presiden Direktur EMAS Boyke Poerbaya Abidin menyampaikan bahwa proses pemurnian tersebut merupakan langkah penting sebelum perusahaan memasuki tahap komersial penuh.
Menurutnya, proses ini juga memastikan kualitas hasil produksi dari Tambang Emas Pani sebelum dipasarkan.
Pengiriman dore untuk pemurnian tersebut sekaligus mempertegas kesiapan operasional proyek emas strategis milik EMAS.
Percepat Pengembangan Fasilitas Pengolahan
Sebagai anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), EMAS juga fokus memastikan produksi emas berjalan disiplin sesuai target tahun ini.
Perusahaan bahkan mempercepat pembangunan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) guna meningkatkan kapasitas produksi.
“Selain itu, perusahaan mempercepat pengembangan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) guna mencapai produksi yang lebih tinggi dan optimal,” ujar Boyke dalam keterangan resmi.
Target Produksi Tambang Emas Pani
Sebagai catatan, EMAS menargetkan produksi Tambang Emas Pani pada 2026 sebesar 110.000 hingga 115.000 ounces emas.
Dalam strategi jangka menengah, perusahaan juga mempercepat pembangunan fasilitas CIL untuk melengkapi metode heap leach yang sudah berjalan.
Integrasi kedua metode tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan produksi hingga sekitar 500.000 ounces emas per tahun pada kapasitas optimal jangka panjang.
Tambang Emas Pani sendiri memiliki sumber daya lebih dari 7 juta ounces emas dengan profil biaya produksi yang kompetitif.
Analis: EMAS Berpotensi Balik Laba pada 2026
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai pengiriman perdana emas ini menandai transisi penting EMAS menuju fase produksi komersial.
Jika proses produksi dan penjualan berjalan lancar, EMAS berpotensi membalikkan posisi rugi menjadi laba pada tahun 2026.
Menurut Wafi, kontribusi EMAS terhadap induk usahanya, MDKA, juga diperkirakan meningkat signifikan.
“Tambang Pani diproyeksikan menjadi salah satu aset emas primer terbesar di kawasan Asia Pasifik,” ujar Wafi.
Ia menambahkan bahwa strategi utama EMAS saat ini adalah mempercepat integrasi fasilitas pengolahan emas, terutama pembangunan fasilitas CIL yang ditargetkan dapat beroperasi pada 2028.
Risiko yang Perlu Diperhatikan Investor
Meski prospeknya menjanjikan, terdapat sejumlah risiko yang dapat mempengaruhi kinerja EMAS tahun ini.
Beberapa di antaranya meliputi fluktuasi harga emas global, potensi melesetnya tingkat recovery rate produksi, hingga gangguan operasional akibat anomali cuaca ekstrem.
Rekomendasi Saham EMAS
Dengan mempertimbangkan prospek produksi Tambang Pani dan koreksi harga saham saat ini, Wafi merekomendasikan investor untuk membeli saham EMAS.
Target harga yang dipatok analis berada di level Rp 9.200 per saham.
