PT United Tractors Tbk (UT/UNTR) membukukan pendapatan bersih Rp90,3 triliun hingga kuartal III-2026, turun 10% secara tahunan dari Rp100,5 triliun di periode yang sama 2025. Pelemahan ini terutama dipicu oleh penurunan kinerja di segmen alat berat dan pertambangan batu bara, seiring alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih tanpa memperhitungkan pos non-recurring anjlok 31% menjadi Rp7,9 triliun. Perseroan mencatat pos non-recurring senilai Rp3,5 triliun, yang terdiri dari penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Tekanan paling dalam dirasakan pada lini pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources). Volume penjualan batu bara turun 23% menjadi 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi. Pendapatannya pun susut 15% menjadi Rp15,9 triliun.
“Dampak RKAB juga merembet ke segmen alat berat,” ungkap Ari Setyawan, Corporate Secretary UT, dalam keterangannya Senin(26/10).
Penjualan Komatsu turun 17% menjadi 3.026 unit, terutama akibat anjloknya penjualan big machine di sektor tambang sebesar 48% menjadi hanya 481 unit. Total pendapatan segmen alat berat turun 19% menjadi Rp23,6 triliun, meski pendapatan purna jual suku cadang dan jasa pemeliharaan masih tumbuh 2% menjadi Rp8,5 triliun.
Kontraktor Penambangan Jadi Penyeimbang
Di tengah tekanan tersebut, segmen kontraktor penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) menjadi penopang. Meski volume pemindahan tanah turun 7% menjadi 766 juta bcm dan produksi batu bara klien turun 3% menjadi 106 juta ton dengan stripping ratio 7,2x, pendapatan segmen ini justru naik 11% menjadi Rp44,5 triliun.
Kenaikan tersebut ditopang penguatan kurs dolar AS. PAMA dan KPP Mining juga tengah memperluas ekspansi ke sektor emas dan nikel sebagai strategi diversifikasi portofolio berkelanjutan.
Sementara itu, segmen emas dan mineral lainnya mencatat pendapatan Rp4,9 triliun, anjlok 53% akibat penjualan emas yang turun 70%. Total penjualan setara emas dari PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya hanya 54 ribu ons, dibandingkan 178 ribu ons tahun lalu. Penurunan ini disebabkan penghentian sementara operasional Tambang Emas Martabe, yang baru kembali beroperasi di kuartal II-2026.
Untuk nikel, PT Stargate Pacific Resources membukukan penjualan bijih sebesar 1.157 ribu wet metric ton (wmt), terdiri dari 390 ribu wmt saprolit dan 767 ribu wmt limonit.
Per 30 September 2026, Perseroan mencatat utang bersih Rp4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2%, berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun per Desember 2025. Perubahan ini mencerminkan aksi akuisisi perusahaan tambang emas dan program pembelian kembali saham.
UT telah menyelesaikan buyback tahap keempat pada 30 September 2026 dengan 58 juta lembar saham, dan melanjutkan tahap kelima senilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Oktober hingga 31 Desember 2026. Secara akumulatif sejak Juli 2022, Perseroan telah membeli kembali 297 juta saham senilai Rp8,5 triliun sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang di tengah volatilitas pasar. (RA)
