Penyebab Merdeka Gold (EMAS) Catat Rugi Bersih US$27,49 Juta pada 2025

Emiten pertambangan PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), mencatatkan rugi bersih sebesar US$27,49 juta pada 2025 atau melonjak dari kerugian tahun sebelumnya yang mencapai US$12,69 juta.

Berdasarkan laporan keuangan akhir Desember 2025, penurunan tajam terjadi pada pos pendapatan yang anjlok 92,46% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$131.964, atau dari sebelumnya US$1,74 juta pada 2024.

Sekretaris Perusahaan Merdeka Gold Resources, Adi Adriansyah Sjoekri, menyampaikan bahwa realisasi rugi sebelum pajak perseroan lebih tinggi US$17 juta dibandingkan dengan proyeksi awal. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memicu pembengkakan kerugian tersebut.

“Terutama disebabkan oleh kenaikan biaya umum dan administrasi sebesar US$7 juta, serta peningkatan biaya keuangan sebesar US$7 juta untuk mendukung pertumbuhan dan pengembangan bisnis grup,” ujarnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Kamis (12/3/2026).

Adi menambahkan, biaya keuangan tersebut diproyeksikan sebagian besar akan dikapitalisasi ke dalam proyek-proyek perusahaan. Akibatnya, rugi komprehensif tahun berjalan tidak mencapai target yang diproyeksikan.

Dari sisi neraca, total aset EMAS tumbuh 39,82% YoY menjadi US$740,63 juta pada akhir 2025. Hal ini sejalan dengan kenaikan liabilitas sebesar 40,13% ke US$359,70 juta dan ekuitas meningkat 39,52% menjadi US$380,93 juta.

Namun, posisi kas dan bank entitas anak PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) ini mengalami penurunan sebesar 32,71% YoY, dari US$67,33 juta pada akhir 2024 menjadi US$45,30 juta pada 2025. Di sisi lain, arus kas dari aktivitas operasi dilaporkan mencapai 71% dari target yang ditetapkan manajemen.

Adi menuturkan bahwa nilai total aset juga tidak mencapai target lantaran saldo kas dan bank perusahaan lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi.

“Hal tersebut terutama dipengaruhi oleh perbedaan realisasi pembayaran beban keuangan dan biaya pinjaman, serta penarikan fasilitas pinjaman bank dibandingkan dengan asumsi dalam proyeksi,” pungkasnya.

Meski menghadapi tantangan pada sisi bottom line, manajemen tetap fokus pada agenda pengembangan bisnis grup yang tercermin dari peningkatan biaya investasi dan dukungan keuangan pada tahun lalu.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman

Sumber:

– 12/03/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Jumat, 13 Maret 2026

baca selengkapnya

Mulai 2027, Kepatuhan Pajak Bakal Jadi Syarat Ajukan RKAB Tambang

baca selengkapnya

Ini Hasil Kajian LPEM FEB UI Terkait Kontribusi AMMAN Pada Makroekonomi Nasional Dan Regional

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top