ANALIS komoditas memproyeksikan permintaan batu bara masih akan kuat selagi China mengandalkan komoditas tersebut bagi pembangkit listriknya. Harga batu bara pun diproyeksikan berada di level US$140/ton pada 2025.
Analis Panin Sekuritas Rizal Nur Rafly mengungkapkan hingga saat ini sekitar 60% pembangkit listrik di China masih menggunakan batu bara, meski adopsi energi baru terbarukan (EBT) di negara tersebut juga makin masif.
Akan tetapi, saat ini ongkos tarif listrik yang berasal dari batu bara jauh lebih murah ketimbang EBT. Hal tersebut akan menjadi katalis yang menjaga permintaan si batu hitam tetap kuat pada tahun depan.
“Kami memperkirakan rata-rata harga batu bara akan berada di level US$140 per ton untuk 2025,” kata Rizal saat dihubungi, Kamis (19/12/2024).
Pada Rabu (18/12/2024), batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini dihargai US$128,6/ton, anjlok 1,34% secara harian dan menjadi yang terendah sejak 10 April atau lebih dari 8 bulan terakhir.
Dalam sepekan terakhir, harga batu bara ambruk 3,49% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga amblas 9,28%. Sepanjang 2024, atau year to date (ytd), harga terpangkas 12,16%.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga meyakini permintaan batu bara dunia akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang, setidaknya selama Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq meyakini, di luar faktor Trump, selama stabilitas keamanan dunia akibat krisis Eropa Timur dan Timur Tengah masih tinggi, permintaan batu bara juga akan tetap tinggi.
“Saya yakin permintaan batu bara akan tetap tinggi. Apalagi dengan kebijakan ekonomi AS ke depan pascaterpilihnya Presiden Trump pasti akan berpengaruh terhadap harga bahan bakar fosil mengingat Presiden Trump kurang mendukung transisi energi ke bahan bakar ramah lingkungan,” kata Julian saat dihubungi, Kamis.
Permintaan batu bara dalam beberapa tahun ke depan, kata Julian, juga akan tergantung pada kinerja industri dan kebutuhan energi dunia serta progres dan komitmen dunia terhadap transisi energi dari fosil ke energi ramah lingkungan.
Sementara itu, dari sisi suplai, penawaran akan tergantung dari produksi batu bara di China dan India karena keduanya merupakan produsen sekaligus pemakai batu bara.
Namun, produksi Indonesia juga tak kalah penting untuk mengisi kebutuhan pasar dunia. Dia menggarisbawahi apabila RI kelebihan produksi, harga akan jatuh. “Sedangkan kalau under produksi ya harga akan naik,” ujar Julian.
International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan dunia terhadap batu bara bakal terus mencapai rekor tertinggi tiap tahunnya, setidaknya hingga 2027, saat konsumsi energi fosil diproyeksi mulai menurun.
Ramalan IEA tersebut sekaligus membalikkan estimasi sebelumnya bahwa permintaan batu bara dunia bakal mencapai rekor tertingginya pada 2023, di tengah desakan global untuk membatasi emisi karbon yang menyebabkan pemanasan global.
“Edisi baru laporan pasar batu bara tahunan IEA, yang menganalisis tren terbaru dan memperbarui prakiraan jangka menengah, menunjukkan bahwa penggunaan batu bara global telah bangkit kembali dengan kuat setelah anjlok pada puncak pandemi,” papar lembaga tersebut dalam laporannya belum lama ini.
IEA memprediksi permintaan batu bara akan naik menjadi 8,77 miliar ton pada 2024, dan melanjutkan level tinggi tersebut hingga 2027.
Akan tetapi, sejalan dengan hal tersebut, penggunaan sumber energi terbarukan diprediksi tetap memainkan peran yang lebih besar dalam ketenagalistrikan global. Permintaan dari China —konsumen batu bara terbesar— juga diperkirakan menurun. (mfd/wdh)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 19 Desember 2024
