Petrosea Siapkan Capex Rp 6 Triliun untuk Investasi Alat Tambang Baru

SAHAM emiten Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO) terus mencatatkan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Pendapatan dari tahun 2022 tercatat sebesar US$ 476,3 juta menjadi sebesar US$ 577,6 juta atau mencatat pertumbuhan sebesar 21,3 persen. Pada semester I/2024, PTRO mencatat pertumbuhan sebesar 16,1 persen dengan pendapatan sebesar US$ 318 juta.

“Hal ini ditopang oleh peningkatan pendapatan pada lini bisnis rekayasa dan konstruksi, di mana kontribusi terbesar dari peningkatan pendapatan dari proyek BP Onshore Early Works, Tangguh Onshore Compression atau UCC dan proyek Kilang Manyar Maju,” kata Direktur Petrosea Ruddy Santoso saat Paparan Publik PT Petrosea Tbk yang digelar secara online, Rabu (23/10).

Untuk kontribusi pendapatan selama tahun 2022 dan tahun 2024, lanjut Ruddy, lini bisnis jasa kontrak pertambangan memberikan kontribusi lebih dari 60 persen dari total pendapatan Petrosea. Pada semester I/2024, kontribusi lini bisnis jasa rekayasa dan konstruksi memberikan kontribusi yang cukup signifikan sebesar 44,4 persen.

“Hal ini seiring dengan diversifikasi Petrosea serta pengembangan usaha dengan adanya proyek baru BP dan kenaikan aktivitas proyek Freeport Gresik dan juga di Papua,” lanjut Ruddy.

PTRO mencatatkan laba kotor sebesar US$ 40,7 juta di mana pencapaian laba kotor relatif stagnan secara year-on-year. Hal ini terjadi akibat meningkatnya beban usaha langsung untuk mendukung kegiatan operasional dan proyek ekspansi pada lini bisnis perusahaan.

Ruddy juga menyebut, total aset perusahaan terus bertumbuh dari US$ 596,4 juta di tahun 2022 menjadi US$ 735,6 juta di semester I/2024 atau mengalami kenaikan sebesar 23,3 persen.

“Kenaikan ini seiring dengan kenaikan pendapatan usaha yang menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan usaha,” tambah Ruddy.

Petrosea pun berencana akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 400 juta atau sekitar Rp 6 triliun selama periode 2024-2025 untuk investasi dalam peralatan pertambangan baru.

“Pembelian peralatan pertambangan ini dilakukan untuk mendukung proyek-proyek jasa penambangan baru serta sebagai langkah pengembangan bisnis dan keberlanjutan usaha di masa mendatang,” kata Ruddy.

Portofolio kontraktor pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu ini baru-baru ini juga membentuk anak perusahaan baru bernama PT Petrosea Infrastruktur Nusantara (PIN) pada 8 Oktober 2024.

Direktur Petrosea Iman Darus Hikhman mengatakan, tujuan pembentukan PIN untuk meningkatkan pelayanan terintegrasi PT Petrosea dan PT Petrindo dalam memberikan pelayanan terbaik kepada klien.

“Kami juga berusaha untuk memberikan solusi yang solid dan terintegrasi, terutama untuk proyek-proyek yang sedang dalam pengembangan di area-area ekspansi seperti Kalimantan Tengah dan daerah Indonesia Timur sebagai pengembangan ekspansi ke mineral proyek,” ujar Iman.

Direktur Petrosea Kartika Hendrawan menyebut ke depannya perseroan tengah melakukan beberapa due diligence atas aset-aset yang akan diakuisisi serta beberapa aset organik yang akan dibangun oleh perusahaan.

“Intinya untuk infrastruktur ini kita berharap positioning dari Petrosea semakin lengkap. Bukan hanya sebagai IPC kontraktor yang membangun aset-aset infrastruktur tersebut, tapi juga menjadi pemilik aset tersebut dan bisa membantu kami menjadi mining kontraktor untuk klien-klien kami ke depannya,” tutup Hendrawan. Editor: Gesa Vitara

Sumber: investor.id, 23 Oktober 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Rabu, 01 April 2026

baca selengkapnya

Aneka Tambang (ANTM) Cetak Rekor Pendapatan dan Laba Tertinggi pada 2025

baca selengkapnya

Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan US$1,89 Miliar pada 2025, Rugi Membengkak

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top