Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) masih optimistis menatap outlook industri pada tahun ini. PAABI memproyeksikan permintaan unit alat berat bisa kembali meningkat ke level 23.000 unit – 25.000 unit sepanjang tahun 2026.
Ketua Umum PAABI Yushi Sandidarma mengungkapkan dengan estimasi tersebut, volume penjualan alat berat tahun ini diproyeksikan akan tumbuh secara moderat antara 5%-8% dibandingkan tahun 2025. Proyeksi ini sudah memperhitungkan kondisi pemulihan pasca bencana yang menimpa Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara.
“Kami kira dampak bencana (di Sumatra) lebih pada disrupsi regional dan recovery, bukan perubahan tren nasional industri alat berat secara keseluruhan. Jadi, tahun 2026 ini akan lebih baik daripada 2025. Tantangan tetap ada, tapi outlook positif,” kata Yushi kepada Kontan.co.id, Selasa (13/1/2026).
Dengan asumsi pertumbuhan moderat dan proyeksi permintaan unit tersebut, PAABI memperkirakan total nilai pasar alat berat Indonesia mencapai US$ 3,62 miliar pada 2026.
Dalam prediksi PAABI, total pasar alat berat Indonesia akan terus tumbuh hingga mencapai sekitar US$ 4,89 miliar pada 2031, dengan Compounded Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 6%-8% selama periode tersebut.
Yushi membeberkan bahwa kontribusi dari sektor pertambangan masih dominan bagi industri alat berat. Proyeksi permintaan dari sektor pertambangan akan mencapai 45%-50% dari total permintaan unit alat berat pada tahun ini.
Estimasi itu mencakup permintaan dari tambang batubara, nikel dan mineral strategis. Pasar terbesar kedua adalah sektor konstruksi dan infrastruktur dengan kontribusi sekitar 35%-40%, termasuk dari kelanjutan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), jalan tol dan pelabuhan.
Sedangkan permintaan dari sektor perkebunan dan kehutanan diproyeksikan mencapai 8%-10%. Kemudian sektor industri dan lainnya memiliki potensi menyumbang sekitar 5% terhadap total permintaan unit alat berat tahun ini.
“Industri alat berat 2026 tumbuh kuat, didorong proyek besar dan tambang. Tapi dengan kondisi yang semakin kompetitif, harus siap menghadapi persaingan, biaya teknologi, dan risiko harga komoditas yang bergerak fluktuatif,” tegas Yushi.
Di sisi yang lain, pelaku industri alat berat mengantisipasi langkah pemerintah memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang untuk tahun 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa RKAB produksi batubara pada tahun 2026 hanya sekitar 600 juta ton.
Estimasi tersebut mencerminkan penurunan sekitar 24% dibandingkan volume produksi batubara tahun 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton.
Ketua IV PAABI Immawan Priyambudi membeberkan bahwa penurunan target produksi batubara tersebut berpotensi mengurangi permintaan alat berat di sektor tambang, terutama pada jenis excavator, dump truck, dan bulldozer yang digunakan di operasi batubara.
Immawan menggambarkan, tambang batubara menyumbang sekitar 30%-35% terhadap total permintaan alat berat. Dengan asumsi tersebut, maka penurunan target produksi berpotensi menekan penjualan alat berat antara 5%-10%.
Meski begitu, Immawan menegaskan PAABI tetap memandang outlook 2026 secara optimistis. Pelaku industri yang bergerak di bidang Original Equipment Manufacturer (OEM) dan distributor kemungkinan akan meningkatkan penetrasi ke sektor lain untuk menutup gap atas potensi penurunan permintaan dari sektor tambang.
Sektor potensial adalah konstruksi dan perkebunan, termasuk proyek-proyek infrastruktur dan Proyek Strategis Nasional (PSN). Selain itu, permintaan dari proyek mineral strategis dan tambang nikel juga diprediksi masih cukup kuat.
“Pemangkasan target batubara menjadi faktor penahan, tapi tidak mengubah arah positif industri secara keseluruhan. Outlook 2026 tetap tumbuh, hanya lebih moderat, dengan pergeseran dominasi ke sektor konstruksi dan tambang nikel,” tandas Immawan.
