Harga aluminium menguat terbatas pada perdagangan Rabu (20/9) pagi. Berdasarkan data di London Metal Exchange (LME), harga aluminium terpantau naik tipis 0,18% ke level US$2.221,00/ton pada perdagangan pukul 08.45 WIB.
Harga aluminium menguat setelah bergerak di rentang US$2.213,00/ton-US$2.221,00/ton. Adapun penguatan tersebut berbalik arah dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang terkoreksi 0,14% pada 19 September 2023.
Jika melihat pergerakan sepanjang tahun berjalan, harga aluminium terpantau turun 6,64%. Harganya pun terkoreksi 1,33% dalam satu tahun terakhir.
Pergerakan harga aluminium pada pagi ini terjadi di tengah kenaikan produksi di China. Mengutip Reuters, data Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan bahwa produksi aluminium China naik 3,10% menjadi 3,60 juta ton pada Agustus dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika diakumulasi selama 8 bulan pertama tahun ini, produksi aluminium China mencapai 27,23 juta ton, atau naik 2,90% secara tahunan.
Pertumbuhan produksi di China disebabkan oleh peningkatan operasi di Yunnan selama kuartal ketiga tahun ini dalam rangka mengimbangi penurunan produksi di Shandong untuk memenuhi target emisi karbon. Produksi di Yunnan juga meningkat setelah harga logam mendapatkan dukungan dari serangkaian langkah ekonomi yang dikeluarkan Pemerintah China untuk membantu pasar properti.
Adapun produksi 10 logam nonferrous China yang termasuk tembaga, aluminium, timah, seng, dan nikel, menyentuh rekor bulanan tertinggi sepanjang masa yang mencapai 6,29 juta ton pada Agustus, atau naik 6,10% secara tahunan. Sementara total produksi sepanjang tahun ini hingga Agustus tercatat naik 6,80% secara tahunan menjadi 48,56 juta ton.
Di sisi lain, indeks dolar AS melemah di tengah berlangsungnya rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang akan berakhir pada Rabu waktu setempat.
Tercatat, indeks dolar AS ditutup melemah 0,45% ke level 104,820 pada perdagangan Selasa (19/9). Pelemahan dolar AS membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Sementara itu pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunganya pada kisaran 5,25%-5,50%. Adapun alat CME FedWatch menunjukkan pasar melihat peluang 30% untuk kenaikan seperempat poin suku bunga The Fed pada November dan peluang 40% kenaikan pada Desember.
Sumber : www.dataindonesia.id, 20 September 2023
