Produksi Nikel 2025 Naik ke 2,5 Juta Ton, Serap Ore 300 Juta Ton

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengestimasikan produksi logam nikel kelas 1 dan kelas 2 sepanjang 2025 mencapai 2,46-2,5 juta ton, meningkat dari realisasi produksi 2024 sebanyak 2,2 juta ton.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menjelaskan Indonesia membutuhkan kurang lebih sebanyak 300 juta ton bijih atau ore nikel untuk menghasilkan produksi logam sebanyak 2,46 juta ton tersebut.

Dia menambahkan kapasitas terpasang fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Indonesia tercatat sebesar 2,8 juta ton nikel yang terdiri atas 2,3 juta ton smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan 500.000 ton smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

“⁠Dengan tingkat utilisasi dan faktor-faktor operasi lainnya, hingga akhir 2025 diperkirakan produksi nikel Indonesia berada sekitar 2,5 juta ton nikel kelas 1 dan 2,” kata Arif ketika dihubungi, dikutip Sabtu (3/1/2026).

Permintaan dan daya tahan cadangan nikel Indonesia./dok. APNI

 

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan realisasi produksi bijih nikel Indonesia pada 2025 diperkirakan hanya mencapai 82%-85% dari total produksi yang disetujui dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025 sekitar 300 juta ton.

Dengan begitu, pada tahun lalu Indonesia diprediksi harus mengimpor 15 juta ton bijih nikel dari Filipina ke wilayah Halmahera, Maluku Utara untuk menambal kekurangan pasokan bijih tersebut.

“Sekitar 15 juta ton bijih nikel harus diimpor dari negara Filipina, dan paling banyak masuk ke wilayah Halmahera,” terangnya.

Kekurangan Pasokan

Arif mengatakan produksi logam nikel pada 2026 berpotensi naik lagi menjadi 2,7 juta ton, seiring dengan penambahan kapasitas terpasang smelter. 

Dari besaran itu, Indonesia membutuhkan tambahan bijih nikel sekitar 40-50 juta ton atau sekitar 340-350 juta ton.

“Pada 2026, dengan adanya penambahan kapasitas terpasang terutama dari proyek-proyek HPAL yang hampir selesai masa konstruksinya dan akan mulai beroperasi, kemampuan produksi fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia adalah sekitar 2,7 juta ton nikel kelas 1 dan 2,” tugas dia.

Untuk itu, Arif menilai jika produksi bijih nikel pada 2026 dipangkas menjadi 250 juta ton, smelter di indonesia berpotensi kekurangan pasokan dari dalam negeri sekitar 100 juta ton.

“Sudah pasti sangat berdampak negatif terhadap industri hilirnya,” ujar Arif.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sebelumnya membeberkan produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 diajukan sekitar 250 juta ton, turun drastis dari target produksi dalam RKAB 2025 sebanyak 379 juta ton.

Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menjelaskan rencana produksi bijih mentah tersebut ditetapkan lebih rendah dibandingkan dengan periode 2025 demi menjaga harga nikel tidak makin turun.

“Rencana pemerintah gitu [produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 sebanyak 250 juta ton]. Rencana ya. Namun, kan saya enggak tahu realisasinya,” kata Meidy ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025).

“Saprolit nanti akan ada kenaikan sampai US$25. Limonit akan ada kenaikan sampai US$30-US$40,” kata Meidy.

Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) mendata impor bijih dan konsentrat nikel dari Filipina mencapai 12,01 juta ton sepanjang Januari-Oktober 2025.

Pada periode tersebut, impor nikel melalui pelabuhan Weda tercatat sebesar 9,5 juta ton. Kemudian, 2,11 juta ton impor nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Morowali.

Sisanya, 289.616 ton masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Kolonodale. Lalu, 56.650 ton masuk melalui pelabuhan Samarinda dan 53.400 ton masuk melalui pelabuhan Kendari.

Sepanjang 2024, RI tercatat mengimpor 10,18 juta ton bijih nikel dari Filipina yang didatangkan dari berbagai pelabuhan termasuk Morowali, Sulawesi Tengah dan Teluk Weda, Maluku Utara.

Tingginya permintaan bijih juga tidak lepas dari banyaknya investasi smelter baru dalam kurun 5 tahun terakhir. Hal tersebut juga memicu lonjakan eksploitasi nikel di dalam negeri.

Sebagai perbandingan, produksi bijih nikel Indonesia tahun 2019 hanya sekitar 52,76 juta ton, meningkat hampir empat kali lipat menjadi 240 juta ton pada 2024.

Menurut data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), saat ini terdapat 120 proyek smelter pirometalurgi berbasis RKEF di Indonesia yang membutuhkan total 584,9 juta ton bijih nikel.

Sementara itu, proyek hidrometalurgi atau berbasis HPAL hanya sebanyak 27 dengan kebutuhan total 150,3 juta ton bijih nikel.

Dengan demikian total proyek smelter nikel di Indonesia mencapai 147 proyek dengan estimasi total kebutuhan bijih 735,2 juta ton. Sementara itu, RKAB nikel yang disetujui untuk 2025 mencapai 300-an juta ton. (azr/wdh)

Sumber:

– 03/01/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Selasa, 06 Januari 2026

baca selengkapnya

ESDM Jelaskan Alasan Relaksasi RKAB 2026, Produksi Tambang Dibatasi 25% hingga Maret

baca selengkapnya

Purbaya Kode BK Batu Bara Berlaku Surut, Segera Terbit

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top