Produksi Nikel 2026 Diproyeksi Turun 4%, Ekspor Berpotensi Naik

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan terjadi penurunan produksi nikel olahan sebesar 3,5%-4% pada 2026.

Meski demikian, nilai ekspor produk turunan nikel disebut masih berpotensi meningkat imbas perkiraan pertumbuhan harga jual rata-rata.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusuma mengatakan, pergerakan harga nikel dunia akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi realisasi ekspor Indonesia sepanjang tahun ini.

Menurut dia, kenaikan nilai ekspor pada 2026 berpotensi lebih banyak didorong oleh harga jual yang lebih tinggi, di tengah penyesuaian pasokan nikel Indonesia.

“Potensi kenaikan realisasi ekspor produk turunan nikel pada tahun 2026 akan banyak ditopang oleh harga jual rata-rata yang lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Arif kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Dia menggambarkan, data FINI mencatat nilai ekspor produk turunan nikel tumbuh sekitar 12 kali dari 2016 hingga 2022. FINI memandang angka ini menjadi salah satu penanda keberhasilan hilirisasi nikel nasional.

Di sisi lain, tahun ini, meskipun harga nikel London Metal Exchange (LME) sempat mengalami lonjakan sementara ke atas US$ 19.000 per ton pada pertengahan tahun akibat dinamika kuota pasokan, harga akhirnya kembali terkoreksi.

Ia menambahkan, besarnya inventori di LME dan Tiongkok diperkirakan masih dapat membatasi kenaikan harga. Ketidakpastian kebijakan atau regulasi dalam negeri, menurut Arif, juga tetap menjadi perhatian.

Dari sisi pasar, FINI mengungkap Tiongkok masih menyerap mayoritas hasil olahan pabrik pengolahan dan pemurnian nilel di Indonesia hingga 80-90%.

Ini diarahkan untuk kebutuhan industri manufaktur baja tahan karat (stainless steel) dan ekosistem rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV battery) di Negeri Tirai Bambu itu.

Pun untuk tahun ini, dia memperkirakan Tiongkok akan tetap mendominasi sebagai konsumen nikel terbesar dunia.

“Meskipun Tiongkok mendominasi secara signifikan, sisanya tersebar ke beberapa negara industri mitra utama Indonesia, seperti Jepang, Singapura, India, Belanda, Taiwan dan Korea Selatan,” lanjut Arif.

Sementara dari sisi produknya, produk turunan nikel yang menopang ekspor mencakup NPI/FeNi, Ni Matte, Iron Steel, MHP, dan Battery Chain.

Bagaimanapun, secara prospek, Arif menilai kebijakan pasokan yang lebih ketat dari pemerintah saat ini secara teoritis telah menyeimbangkan kembali pasar.

Adapun perkiraan harga setelah tahun 2026 juga tetap berada dalam kisaran harga yang tinggi, dengan mengansumsikan tetap akan adanya pengendalian Rancangan Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

“Proyeksi penurunan produksi nikel sebesar 3,5% – 4% pada tahun 2026, dan pertumbuhan permintaan nikel global tahun ini yang masih tetap positif, maka oversupply 2025 akan menjadi defisit atau kelebihan kecil pada tahun 202?6,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan pemerintah menargetkan ekspor nikel Indonesia mencapai US$ 45 miliar pada 2026.

“Alhamdulillah nilai ekspor kita untuk di sektor mineral nikel saja pada tahun 2023 sudah mencapai US$ 34 miliar dan di tahun 2025 sudah lebih di angka US$ 40 miliar dan di tahun 2026 saya targetkan minimal di angka US$ 45 miliar,” katanya dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Rabu (14/10/2026).

Sumber:

– 15/10/2026

Temukan Informasi Terkini

PTRO Bakal Rights Issue 170 Juta Saham, Dana untuk Apa?

baca selengkapnya

Moody’s Pertahankan Peringkat Utang Freeport Indonesia di Baa3

baca selengkapnya

Indo Tambangraya (ITMG) Dirikan Anak Usaha Baru di Bisnis Mineral

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top