Prospek saham emiten pertambangan logam atau metal mining pada sisa 2026 hingga awal 2027 diperkirakan bergerak selektif.
Perbedaan tren harga komoditas dan tekanan biaya produksi menjadi faktor yang perlu dicermati investor dalam menentukan pilihan saham.
Sejumlah emiten yang terdampak dinamika tersebut antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Keempatnya memiliki eksposur komoditas, struktur biaya, serta katalis pertumbuhan yang berbeda.
Pada kuartal III-2026, harga tembaga bertahan di dekat rekor tertinggi, yakni sekitar US$ 14.550 per ton.
Namun, biaya pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga di pasar spot atau spot treatment charges (TC) turun hingga minus US$ 230 per ton. Sementara itu, premi impor tembaga di China meningkat ke level tertinggi sejak akhir 2022.
Harga timah juga bertahan di atas US$ 50.000 per ton, didukung penyusutan persediaan di London Metal Exchange (LME) hingga sekitar separuh dari puncaknya pada Juni 2026.
Sebaliknya, harga emas terkoreksi sekitar 26% dari puncaknya pada Januari 2026. Adapun harga nikel di LME mencapai level terendah sepanjang tahun berjalan, di tengah persediaan yang menyentuh rekor sekitar 480.000 ton.
Tekanan juga datang dari sisi biaya produksi. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$ 100 per barel, sedangkan harga sulfur rata-rata mencapai sekitar US$ 1.200 per ton pada kuartal III-2026.
Kondisi ini berpotensi menekan margin, terutama bagi perusahaan dengan kebutuhan energi dan bahan baku yang besar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan harga tembaga dan timah berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap kedua komoditas tersebut.
Sebaliknya, koreksi harga emas dan tekanan di industri nikel membuat investor perlu lebih selektif.
“Tingginya harga minyak Brent serta sulfur juga menjadi faktor risiko karena dapat meningkatkan biaya energi, logistik, dan bahan baku, khususnya bagi fasilitas pengolahan nikel berbasis high-pressure acid leach (HPAL) dan rotary kiln electric furnace (RKEF),” ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Menurut dia, perubahan harga komoditas tidak selalu berdampak secara proporsional terhadap laba bersih emiten.
Pengaruhnya turut ditentukan oleh struktur biaya produksi, kontrak penjualan, serta kontribusi masing-masing segmen usaha.
Prospek AMMN, ANTM, BRMS, dan INCO
Untuk AMMN, kenaikan harga tembaga berpotensi menjadi katalis positif. Peningkatan kontribusi fasilitas pengolahan dan pemurnian, proses peningkatan kapasitas operasional (ramp-up) smelter dan fasilitas pemurnian logam mulia, serta pemulihan produksi tambang Batu Hijau berpeluang mendukung pertumbuhan pendapatan dan EBITDA hingga 2027.
Meski demikian, koreksi harga emas dapat membatasi kontribusi segmen tersebut. Investor juga perlu mencermati keberlanjutan peningkatan produksi dan stabilitas operasional AMMN.
Sementara itu, ANTM memiliki portofolio bisnis yang relatif terdiversifikasi. Bisnis emas berpotensi menjadi penyangga ketika harga nikel melemah.
Pada semester I-2026, ANTM membukukan penjualan Rp 62,71 triliun dan laba bersih Rp 6,91 triliun. Segmen emas menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp 50,39 triliun.
Ke depan, ketahanan kinerja ANTM akan dipengaruhi oleh permintaan emas domestik, pengelolaan persediaan dan biaya, serta perkembangan bisnis bijih nikel dan proyek hilirisasi.
Adapun BRMS masih memiliki peluang pertumbuhan melalui peningkatan volume produksi emas dan optimalisasi fasilitas pengolahan.
Pengoperasian pabrik berkapasitas 2.000 ton bijih per hari serta pengembangan tambang bawah tanah berpotensi mendukung peningkatan produksi dan kualitas bijih pada 2027.
Namun, koreksi harga emas dapat mengurangi tambahan pendapatan yang diperoleh dari setiap unit produksi.
Karena itu, kemampuan BRMS meningkatkan volume produksi sekaligus menjaga biaya operasional akan menjadi faktor penting bagi kinerja ke depan.
Berbeda dengan ketiga emiten tersebut, INCO menghadapi tantangan dari tekanan harga jual nikel dan kenaikan biaya produksi.
Kombinasi harga nikel yang melemah dengan biaya energi dan bahan baku yang tinggi berpotensi mempersempit margin apabila tidak diimbangi efisiensi operasional dan peningkatan produktivitas.
Nafan menilai, pemulihan kinerja INCO pada sisa 2026 hingga awal 2027 akan bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan nikel global, pengendalian biaya, serta kemajuan proyek pengembangan dan hilirisasi.
Di tengah prospek yang beragam, Nafan merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham ANTM dengan target harga Rp 3.470 per saham. Strategi serupa diberikan untuk BRMS dengan target harga Rp 860 per saham.
Sementara itu, investor disarankan menerapkan strategi wait and see terhadap saham AMMN dan INCO, sembari mencermati perkembangan harga komoditas, realisasi produksi, dan kemampuan perusahaan menjaga margin.
