Prospek Bisnis Energi dan Mineral Indonesia Dinilai Tetap Menjanjikan

Di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian, prospek bisnis energi dan mineral Indonesia dinilai tetap menjanjikan. Besarnya sumber daya dan cadangan komoditas energi serta mineral menjadi salah satu modal utama Indonesia untuk mengembangkan sektor tersebut.

Hal itu disampaikan President Director PT Freeport Indonesia Tony Wenas dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Tony mengatakan, ketidakpastian global merupakan kondisi yang telah berlangsung sejak lama sehingga Indonesia perlu lebih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, termasuk mengoptimalkan potensi sumber daya energi dan mineral dalam negeri.

“Di tengah situasi global yang tidak menentu saya rasa dari dulu situasi global itu tidak menentu terus, tidak hanya 4 tahun terakhir ini ya, enggak, perang ada terus, tinggal negaranya aja beda-beda,” ujar Tony.

Menurutnya, Indonesia mempunyai potensi sumber daya dan cadangan komoditas energi dan mineral yang melimpah, mulai dari tembaga, emas, bauksit, timah, batu bara, hingga nikel. Kondisi tersebut membuat peluang bisnis di sektor energi dan mineral Indonesia masih terbuka lebar.

“Intinya adalah kalau melihat dari sumber daya atau cadangan yang ada di Indonesia, Indonesia punya hampir semuanya dan potensi bisnis di bidang itu tentu saja besar sekali besar sekali,” katanya.

Tony menyebutkan, hingga saat ini Indonesia masih berada pada urutan 10 teratas dalam hal produksi energi, logam, dan mineral. Ia juga menilai pengembangan bisnis energi semakin memiliki prospek seiring dengan perhatian pemerintah terhadap transisi energi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

“Jadi potensi bisnis di bidang itu tentu saja besar sekali besar sekali apalagi sekarang udah ada menteri SDM yang merangkap menjadi menko bidang hilirisasi dan transisi energi, jadi memang bisnis energi juga sangat menjanjikan,” ujarnya.

Namun, menurut Tony, keberadaan regulasi perlu diarahkan untuk menciptakan ekosistem bisnis yang lebih efisien. Regulasi diharapkan dapat mendorong tersedianya produk energi, mineral, dan logam dengan biaya lebih rendah sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih kompetitif.

“Dalam arti kata produktivitas lebih tinggi, sehingga keberadaannya betul-betul bisa terjangkau oleh industri yang lebih hilir untuk menghasilkan produk yang lebih baik dengan harga yang lebih murah,” kata Tony.

Ia mengingatkan, regulasi yang terlalu tinggi standarnya berpotensi memperlambat proses produksi dan pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan kemungkinan pembengkakan biaya. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada harga produk yang dihasilkan.

Tony menilai, optimalisasi sumber daya, kepastian regulasi, serta efisiensi biaya menjadi faktor penting agar potensi energi dan mineral Indonesia dapat terus dikembangkan sekaligus mendukung daya saing industri hilir.

Sumber:

– 07/10/2026

Temukan Informasi Terkini

Smelter Nikel Bertambah, Pemerintah Justru Siapkan Kendali Produksi

baca selengkapnya

Bahlil Buka Opsi Moratorium Smelter Nikel Setengah Jadi, Ini Alasannya

baca selengkapnya

Prospek Emiten Batubara Masih Positif, DSI Jadi Risiko Baru

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top