Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi yang digarap Grup MIND ID akan menciptakan nilai tambah tinggi.
Pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi yang digarap Grup MIND ID dinilai mampu menciptakan nilai tambah hingga 100 kali lipat bagi perekonomian nasional.
Indonesia akan mampu masuk ke tahap industri midstream dan downstream baterai yang akan mampu memberi dampak positif bagi berbagai sektor manufaktur energi hijau dan kendaraan hijau.
Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Evvy Kartini mengatakan, nilai tambah terbesar tidak berada pada tahap pengolahan awal mineral, melainkan pada sektor manufaktur di mana Indonesia mampu memproduksi prekursor, material katoda, hingga baterai.
“Kalau kita berhenti di tahap MHP, nilai tambahnya hanya sekitar 5 sampai 10 kali. Tapi kalau sudah masuk ke produksi katoda, nilainya bisa naik sampai 50 kali. Dan ketika menjadi baterai, nilai tambahnya bisa lebih dari 100 kali,” ujar Evvy, Kamis (5/2/2026).
Evvy melanjutkan proyek ekosistem baterai terintegrasi yang dikembangkan Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama mitra strategis global, menjadi momentum penting transformasi ekonomi Indonesia.
Indonesia memiliki keunggulan rantai pasok pengolahan mineral yang lengkap dari hulu sampai hilir, dan mampu dioptimalkan untuk membangun ekosistem industri baterai.
Nikel bisa mengolah jadi material katoda, memproduksi baterai, bahkan sampai mengembangkan daur ulang, sehingga mampu memberi dampak yang optimal bagi perekonomian Indonesia.
“Nilai ekonomi terbesar itu ada di midstream dan downstream. Di situlah industri, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi bisa tumbuh,” ujarnya.
Baterai Berbasis Nikel
Lebih lanjut, Evvy menilai baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) perlu menjadi fokus utama pengembangan industri nasional, mengingat bahan bakunya berasal dari dalam negeri dan memiliki kepadatan energi lebih tinggi.
Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan insentif kendaraan listrik dari pemerintah yang sejalan dengan agenda hilirisasi.
“Pasar itu harus diciptakan lewat kebijakan. Kalau kendaraan berbasis NMC diberi insentif, industrinya akan tumbuh. Ini penting untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan berkelanjutan,” jelasnya.
Evvy optimistis, dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan eksekusi proyek yang terintegrasi, pengembangan ekosistem baterai nasional untuk meningkatkan daya saing industri
“Ini momentum emas bagi Indonesia. Tinggal bagaimana kita memastikan seluruh rantai nilainya benar-benar dibangun di dalam negeri,” pungkasnya.
Sedot Investasi Rp 100 Triliun, Pemerintah Kebut Proyek Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi
Sebelumnya, pemerintah mempercepat pengembangan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi dari hulu ke hilir dengan investasi jumbo. Hal ini sebagai strategi utama mendorong hilirisasi mineral dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Proyek kolaborasi Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD) ini diharapkan menjadi motor bagi peningkatan daya saing industri nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem rantai industri baterai secara terintegrasi, mulai dari pertambangan nikel, smelter, high pressure acid leaching (HPAL), produksi precursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.
Dengan total nilai investasi proyek diperkirakan mencapai USD 6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun (kurs 16.799 per USD) , pemerintah terus melanjutkan pengembangan fasilitas baterai dari tahap awal berkapasitas 10 gigawatt (GW) yang telah beroperasi sejak 2023.
Ke depan, kapasitas produksi akan ditingkatkan dengan tambahan 20 GW guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik.
“Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil dikutip Senin (3/1/2026).
Bahlil menjelaskan rantai industri ekosistem baterai kendaraan listrik memiliki dampak yang sangat besar terhadap kemajuan ekonomi.
Bukan hanya meningkatkan nilai tambah mineral, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperkuat ketahanan energi nasional.
