PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), menargetkan produksi metanol dari proyek gasifikasi batu bara (coal-to-methanol) untuk menyuplai pasar domestik sekaligus menjadi substitusi produk impor.
Presiden Direktur BEC, Rio Supin menyatakan bahwa prioritas utama perusahaan adalah memenuhi kebutuhan industri dalam negeri yang selama ini bergantung pada impor metanol.
“Target utama kami sejak awal adalah melakukan substitusi impor. Seluruh konsumen metanol di dalam negeri pasti membutuhkan pasokan ini, sehingga fokus utama kami memang pasar domestik,” ujar Rio Supin usai acara penandatanganan Kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Terkait potensi penyerapan metanol untuk mendukung program mandatori biodiesel, Rio mengungkapkan bahwa pihaknya telah menandatangani sejumlah Letter of Agreement (LoA) atau surat kesepakatan awal pembelian.
“Saat ini, pengguna metanol terbesar berada di sektor industri biodiesel. Oleh karena itu, produsen minyak kelapa sawit [Crude Palm Oil/CPO] yang menghasilkan fatty acid methyl ester [FAME] menjadi sasaran utama kami. Kami telah menandatangani beberapa LoA untuk kerja sama tersebut,” pungkasnya.
Sebagai informasi, metanol sangat dibutuhkan dalam program biodiesel B50 karena merupakan bahan baku utama untuk memproses minyak sawit menjadi FAME yang dicampurkan ke dalam solar.
Proyek ini dirancang untuk menghasilkan 2 juta ton produk metanol per tahun pada tahap pertama, beserta produk sampingan berupa asam sulfat (sulfuric acid). Secara bertahap, KPC dan Arutmin berkomitmen untuk mengembangkan kapasitas produksi hingga mencapai 3,6 juta ton per tahun.
Untuk mendukung operasional gasifikasi dan bahan bakar pembangkit listrik, proyek ini membutuhkan total bahan baku batu bara sekitar 7,7 juta ton per tahun. Pihak manajemen merencanakan penggunaan batu bara kalori rendah (low-rank coal) dengan spesifikasi sekitar 3.300 kcal/kg GAR.
Rio juga memaparkan bahwa dalam proses gasifikasi ini batu bara kalori rendah yang memiliki kandungan air (moisture) yang cukup tinggi akan melalui tahapan pengeringan (coal drying) terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam fasilitas gasifikasi.
Gas sintesis (syngas) yang dihasilkan dari proses gasifikasi kemudian akan dibersihkan, lalu diproses melalui tahap methanol synthesis dan methanol distillation hingga menghasilkan metanol murni.
Rio menegaskan bahwa kualitas metanol yang diproduksi akan mengacu pada standar internasional European Chemical Marketing and Logistics Association (EMPCA).
“Dalam engineering study yang kami lakukan, kami meminta agar grade metanol mengikuti standar internasional, bukan standar GB China,” tegas Rio.
Lokasi proyek ini dinilai juga sangat strategis karena berada tepat di tepi Selat Makassar, sehingga mempermudah akses distribusi metanol ke pasar domestik.
Proyek ini juga akan dibangun secara terintegrasi dengan pembangkit listrik dan fasilitas pemurnian air di lokasi yang sama. Pembangkit listrik tersebut tidak hanya menyuplai energi listrik untuk kawasan proyek, tetapi juga menghasilkan uap (steam) yang dibutuhkan dalam proses gasifikasi dan sintesis metanol.
BEC telah memilih enam teknologi utama dengan bantuan konsultan independen. Dalam tahap FEED ini, perusahaan juga akan menandatangani Project Definition Package (PDP) yang mencakup lisensi atas penggunaan teknologi tersebut. (smr/ros)
