PTBA: PPN 12% Jadi Sentimen Negatif Batu Bara Saat Harga Bearish

PT BUKIT Asam (Persero) Tbk (PTBA) menyatakan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% per 1 Januari 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi industri batu bara dari sisi domestik, di tengah potensi yang cenderung stagnan dengan tren menurun tahun depan.

“Sudut pandang kami lebih ke arah potensi naiknya biaya operasional imbas dari pemberlakuan PPN 12% di tengah potensi harga batu bara yang cenderung stagnan dengan tren menurun pada 2025,” kata Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra saat dihubungi, dikutip Senin (23/12/2024).

Selain itu, tantangan lainnya yakni adanya isu pemberlakuan pajak alat berat bisa berpotensi meningkatkan biaya jasa penambangan.

Akan tetapi, PTBA masih meyakini permintaan batu bara di tingkat global akan terus meningkat karena kebutuhan energi global terutama dari sektor pembangkit listrik di negara-negara berkembang khususnya Asia Tenggara dan Asia Selatan masih tinggi. 

Niko menyebut PTBA senantiasa mendorong ekspor dengan memanfaatkan peningkatan permintaan dari negara-negara berkembang di Asia Tenggara dan Asia Selatan.

“Dapat dilihat dari kinerja penjualan kami hingga triwulan III-2024, di mana porsi ekspor kami mencapai 46% dan dari sisi volumenya meningkat 27% secara tahunan,” tutur Niko.

Menurut dia, faktor pendorong tingginya permintaan batu bara yakni negara seperti Asia Tenggara dan India tetap bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama karena lebih stabil dan terjangkau.

Kemudian, tingginya permintaan tak lepas dari krisis energi akibat konflik geopolitik seperti perang di Ukraina. Kondisi itu telah memengaruhi pasokan gas alam sehingga mendorong sejumah negara kembali mengandalkan batu bara.

Faktor lainnya yakni peningkatan permintaan batu bara pada musim dingin atau musim panas yang lebih ekstrem.

Dari sisi harga, volatilitas tetap menjadi ciri utama pasar batu bara. Dengan permintaan yang masih kuat dan potensi gangguan pasokan, harga batu bara pada  2025 diperkirakan tetap di kisaran harga 2024 dalam jangka pendek hingga menengah; tergantung pada kondisi pasar global.

“[Seperti] kesenjangan logistik dan infrastruktur di beberapa wilayah [Laos] produsen batu bara dan adanya tekanan dari negara-negara maju untuk percepatan transisi energi,” ucap Niko.

Pada penutupan Jumat (20/12/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle diperdagangkan di US$127,30 per ton, merosot 0,35% dari hari sebelumnya dan 10,04% dari bulan sebelumnya. Secara tahunan, harga batu bara telah terjerembap sebanyak 11,75%. 

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia/Indonesian Coal Mining Association (APBI/ICMA) memproyeksikan harga batu bara tetap stabil atau stagnan pada 2025 dari tren tahun ini, lantaran dinamika suplai akan berimbang dengan prospek permintaan yang masih kuat.

Plt Direktur Eksekutif APBI/ICMA Gita Mahyarani menuturkan sejauh ini permintaan terbesar batu bara Indonesia untuk pasar ekspor masih berasal dari China.

“Mereka sendiri membutuhkan batu bara, [meski] dengan produksi domestik China yang sebanyak +/- 4 miliar ton,” kata Gita.

Tidak hanya China, kata Gita, permintaan batu bara oleh India masih akan tetap kuat pada 2025, untuk memenuhi kebutuhan pembangkit di Negeri Bollywood, meski negara tersebut tengah menggenjot produksi batu bara dalam negeri. (mfd/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, December 23, 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top